Petugas pemakaman di Madrid, Spanyol memasukkan peti mati pasien COVID-19 ke dalam mobil jenazah pada Selasa (24/3). (BP/AFP)

MADRID, BALIPOST.com – Angkatan bersenjata Spanyol pada Selasa (24/3) waktu setempat mencari bantuan kemanusiaan ke NATO untuk memerangi COVID-19. Dikutip dari AFP, kematian di Spanyol karena virus ini mencapai 2.700 orang dan kasus terinfeksi membengkak jadi 40.000 pasien.

Dengan pandemi menyebar di seluruh dunia, Spanyol merupakan salah satu negara yang paling buruk terkena. Jumlah kematiannya berada di posisi ketiga dengan jumlah kematian mencapai 2.696 orang namun terdapat 514 kasus kematian lagi dalam 24 jam terakhir.

Meski, Spanyol sudah melakukan lockdown pada 14 Maret, baik kematian maupun kasus terinfeksi terus mengalami peningkatan. Kondisi ini mengakibatkan pasukan bersenjata Spanyol turut serta dalam menekan penyebaran virus ini.

Baca juga:  Di Bali, Masih 18 PDP COVID-19 Tunggu Hasil Lab

Adanya kebijakan pemerintah untuk melakukan tes, menyebabkan jumlah orang yang terdeteksi terjangkit meningkat 20 persen menjadi 39.673 kasus, kata Menteri Kesehatan Spanyol, Salvador Illa.

Disebutkan Illa, kementeriannya saat ini sedang menghadapi minggu yang berat karena Spanyol sedang mendekati puncak penyebaran COVID-19. Sama seperti halnya negara-negara lain, Spanyol mengalami kekurangan alat pelindung diri (APD), alat tes, dan obat-obatan.

Dalam pernyataannya, NATO mengatakan pihak militer Spanyol telah meminta pendampingan internasional, mencari suplai obat-obatan untuk membantu menekan penyebaran virus, baik di aparat militer maupun populasi sipil.

Permintaan bantuan secara terperinci adalah 450 ribu alat pernafasan, 500 ribu alat tes cepat, dan 1,5 juta masker bedah. (Diah Dewi/balipost)