Petani membajak sawah. (BP/Dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pariwisata Bali telah dimulai sejak abad ke-19. Namun perkembangan pesat terjadi ketika memasuki akhir tahun 90-an.

Artinya, meski pariwisata telah digarap, Bali pernah sangat lama tergantung pada sektor pertanian. Jejak manusia Bali yang beraba-abad hidup dari bertani mestinya dapat menjadikan manusia Bali tangguh, tidak cengeng terutama saat pariwisata tak lagi berpijar terang.

Guru Besar Fakultas Pertanian Unud Prof. Dr. I Wayan Windia mengatakan, Bali sangat mungkin tetap tangguh tanpa pariwisata karena sebelumnya sangat kuat pertaniannya. “Tiga puluh tahun lalu, 70 persen ekonomi Bali dipengaruhi oleh pertanian,” tegasnya, Jumat (28/2) kemarin.

Bali mulai dimanjakan oleh pariwisata, karena transformasi ekonomi Bali yang terlalu kencang. “Tiba-tiba saja melompat dari sektor primer ke sektor tersier. Sumbangannya pada PDRB Bali tiba-tiba saja melompat menjadi lebih dari 70 persen, dalam 25-30 tahun terakhir,” katanya.

Normalnya, ekonomi bergerak dari sektor primer yakni pertanian ke sektor sekunder (industri pengolahan) baru ke sektor tersier (jasa, dalam konteks Bali adalah pariwisata). Pariwisata itu, kata Windia, sangat rapuh (fragile).

Saat pariwisata mengalami masa kolaps seperti saat ini, maka ekonomi Bali juga ikut kolaps. “Menggantungkan ekonomi Bali pada sektor pariwisata, itu yang tidak boleh,” kata Windia.

Baca juga:  Truk Sampah Mengular, Warga "Tutup" TPA Suwung

Kembali ke sektor primer yakni pertanian mau tidak mau harus dilakukan segera. Dalam pandangan Windia, tidak ada istilah terlambat untuk kembali ke pertanian.

Masih ada tanah luas yang tersedia untuk digarap. Dari 563.132 hektar tanah di Bali, sekitar 28 persen adalah nonpertanian. Ini berarti hampir 72 persen tanah di Bali masih dapat digarap untuk pertanian. Hanya dibutuhkan kemauan keras. Asal tidak cengeng, Bali akan baik-baik saja tanpa pariwisata.

Selain itu, menurut Windia, pertanian yang perlu dilakukan tidak berhenti hanya menghasilkan produk untuk dijual mentah. Hasil pertanian mestinya diolah melalui proses produksi melalui industi pascapanen. Ini berarti Bali harus mengembangkan sektor sekunder berupa industri pengolahan.

Kalau pembangunan ekonomi Bali dilaksanakan melalui pembangunan sektor sekunder, maka ‘’kaki’’ ekonomi Bali akan lebih kokoh. Maka, kalau sektor tersier (pariwisata) di Bali kolaps, pengaruhnya akan dapat ditopang oleh sektor primer dan sektor sekunder dengan sepadan. “Saya kira kebijakan untuk pembangunan industri hilir tidak pernah terlambat untuk dilaksanakan,” tegasnya. (Nyoman Winata/balipost)