Petugas kebersihan Desa Pakraman Padangtegal tengah mengakut sampah di screening yang terpasang pada sungai desa pakraman setempat. (BP/Istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Menjaga keharmonisan alam Bali sesuai program Pemerintah Provinsi Bali ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’, sebuah keniscayaan. Karena itu menjaga alam Bali secara sekala dan niskala terus digelorakan. Itulah yang dilakukan Desa Pakraman Padangtegal, Ubud, Gianyar. Seperti apa desa adat ini menjaga keharmonisan alam?

Bendesa Pakraman Padangtegal, I Made Gandra, mengapresiasi upaya Pemerintah Provinsi Bali menjaga keharmonisan alam Bali melalui program ‘’Nangun Sat Kertih Loka Bali’’. Program ini dinilai memberi perhatian lebih terhadap kearifan lokal Bali. ‘’Ini program yang memberikan perhatian lebih pada kearifan lokal, terhadap kemampuan dan energi Bali yang memang harus diselaraskan,’’ ucapnya.

Dikatakan, Desa Adat Padangtegal sudah berupaya menjaga keharmonisan alam Bali secara sekala dan niskala. Secara niskala, sejak 2017 pihak desa adat sudah mulai menjalankan Sad Kertih. ‘’Diawali pada 2017 kami memulai dengan Atma Kertih dengan upacara Maligia Lajur. Kami juga melakukan upacara Wana Kertih di Monkey Forest, selanjutnya Danu Kertih. Kebetulan kami mempunyai sumber air berupa beji di Monkey Forest. Kami lakukan upacara itu di sana,’’ ujarnya.

Ritual Segara Kertih sudah dilakukan dengan upacara pakelem di Pantai Masceti. Manusa Kertih dilakukan dengan upacara Nyurud Ayu di Pura Dalem Desa Pakraman Padangtegal, yang diikuti semua krama. Terakhir Jagat Kertih, yakni dengan melakukan pacaruan agung di perempatan agung Desa Pakraman Padangtegal. ‘’Semua sudah kami lakukan dalam dua tahun, karena ini sudah terprogram dari 2017 dan 2018 serta 2020 kami akan lakukan Karya Agung Ngusaba Desa Ngusaba Nini,’’ katanya.

Baca juga:  Gubernur Koster Ajak Masyarakat Dukung Program Nangun Sat Kerthi Loka Bali

Sementara secara sekala, Desa Pakraman Padangtegal sudah melakukan berbagai upaya dalam menjaga lingkungan, khususnya dalam menanggulangi sampah. ‘’Di Padangtagal kami pasang alat screening di sungai untuk menaikkan sampah,’’ ungkapnya.

Dikatakan, melalui upaya ini sampah dari hulu tidak bisa mengalir ke wilayah Padangtegal. Diungkapkan, melalui alat berupa jaring besi ini, petugas kebersihan di Desa Pakraman Padangtegal mengangkut satu truk sampah setiap harinya.

Dikatakan, seluruh sampah itu kemudian diolah di rumah kompos yang dikelola di sebelah selatan Central Parkir Padangtegal. Di lahan seluas 30 are itu desa adat juga mengolah sampah rumah tangga. ‘’Semua sampah kita proses. Sampah organik dijadikan kompos. Tidak ada sampah yang dibawa ke luar. Di sini sekaligus sebagai ruang edukasi bagi siswa sekolah terkait pengelolaan sampah,’’ katanya.

Selain itu, pihaknya juga menggalakkan pengelolaan limbah rumah tangga. Terutama pemilik akomodasi, sudah diwajibkan memiliki pengelolaan sampah sendiri. (Manik Astajaya/balipost)