Kunjungan kapal pesiar ke pelabuhan yang dikelola Pelindo III. (BP/ist)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Bali kini dirancang menjadi gerbang wisata maritim Indonesia. Mengingat, Pulau Dewata masuk dalam 6 besar tujuan kapal pesiar di Asia. Terkait hal ini, Kementerian BUMN berkomitmen penuh untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bali lewat rencana pengembangan Benoa Maritime Tourism Hub.

“Tidak mungkin BUMN bekerja sendiri untuk mengembangkan Benoa,” ujar Menteri BUMN RI, Erick Thohir saat menjadi pembicara FGD Rencana Pengembangan Benoa Maritime Tourism Hub di Inaya Putri Nusa Dua Bali, Kamis (13/2) malam. Erick Thohir menjadi pembicara bersama Gubernur Bali Wayan Koster, Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza, dan Direktur Utama Pelindo III Doso Agung.

Erick memastikan proyek strategis ini telah didasari feasibility study dan strategi bisnis yang jelas. Nilai pengembangan Benoa mencapai hampir Rp 5 triliun. “Kita tidak ingin proyek pengembangan Benoa jadi proyek mangkrak,” imbuhnya.

Sebelumnya, Erick mengaku sudah melakukan sidak bersama Gubernur Bali Wayan Koster. Realitanya, Pelabuhan Benoa tidak diprioritaskan untuk turis karena berdampingan dengan peti kemas, ikan dan lainnya. Padahal, kedatangan wisatawan mancanegara kini tidak hanya lewat udara tapi juga laut.

“Secara lingkungan sangat tidak sehat,” jelasnya.

Menurut Erick, menyedihkan jika di Bali, 80 persen penumpang kapal pesiar tidak turun alias hanya lewat untuk membuang sampah. Dari segi ekonomi, tentu tidak ada nilainya. Padahal, Bali adalah jantung pariwisata Indonesia. Jantung ini harus dipastikan terus berdetak. Sebab, adanya gempuran dari negara lain juga bisa membuat Bali berada pada titik jenuh.

“Kita pikirkan ruang Benoa. Menata dengan konsep-konsep pembangunan dan ekosistem yang jelas. Kearifan lokalnya tercermin, sesuai keinginan Pak Gubernur,” jelasnya.

Baca juga:  Mendukung Penyetopan Reklamasi

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, pembangunan Bali berdasarkan pada visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang salah satunya memprioritaskan perbaikan lingkungan. Bali selama ini menyumbangkan devisa yang besar untuk Indonesia dari sisi pariwisata, namun sampai sekarang belum ada timbal baliknya. Dikatakan, 39 persen dari total wisatawan mancanegara ke Indonesia masuk melalui Bali.

“Jika dibiarkan akan terjadi masalah besar kedepan, beban pariwisata tak diimbangi perbaikan infrastruktur hingga pelestarian lingkungannya,” ujarnya.

Menurut Koster, Pelabuhan Benoa dirancang untuk menjadi pelabuhan terindah di dunia namun tetap ramah lingkungan dan menjaga ekosistem sekitarnya. Selain itu, menghilangkan kesan kumuh dan ramah untuk ditambati kapal pesiar. Pengembangan Benoa agar dilakukan secara terintegrasi dan kontekstual, namun tak lepas dari kearifan lokal.

“Kebetulan Pak Menteri BUMN punya selera dan pemikiran yang sama dengan saya mengenai Benoa. Rancangan ini sudah dibahas dan digodok dengan matang,” jelasnya.

Direktur Pelindo III, Doso Agung mengatakan, rancangan pengembangan Benoa merupakan ide Menteri BUMN dan Gubernur Bali. Dalam hal ini, Pelindo hanya berperan menjadi “koki” yang meramu. Dikatakan, perlu ada pelabuhan interchange/transit yang lebih baik untuk cruise/kapal pesiar. Kemudian, memisahkan area tourism dengan area ‘pelabuhan barang’, merubah konsep masterplan Benoa, dan memperhatikan eco tourism hingga stand UKM. Kapal cruise yang disasar berpenumpang 4000-6000 orang.

“Pengembangan Benoa nantinya dilengkapi tambatan kapal cruise dan yacht, menampung 150 UMKM dan areal hutan kota. Rencana selesai 2023,” katanya. (Rindra Devita/balipost)