Ilustrasi. (BP/Dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – “Dumun nike tanah tiange gus, mangkin sampun beli bule. Mangkin kanggeang tiang ngerereh maman sampi driki. (Dulu itu tanah saya, tapi sudah dibeli oleh bule. Sekarang saya hanya di tanah ini mencari rumput untuk makan sapi),” ujar Ketut Pugeg (65) saat berhenti di sebuah lahan penuh rumput di wilayah Kerobokan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Kisah Pugeg tersebut ditulis I Ngurah Suryawan dalam buku ‘’Bali Antah Berantah: Refleksi di Dunia Hampa Makna Pariwisata’’ (2010). Apa yang dialami Pugeg jamak dialami orang Bali setelah pariwisata menyerbu dengan ganas.

Kerobokan yang dulunya relatif ‘’jauh’’ dari Kuta, aman dari incaran investor. Kini vila, spa, restoran dan hotel berjejer.

Ironisnya pembangunan vila dan akomodasi wisata lainnya di Kerobokan hanya membawa sedikit berkah bagi warga asli. Pekerjaan yang kini banyak ditekuni beternak sapi, berdagang kecil-kecilan atau menjadi buruh di proyek hotel dan vila.

Ketidaksiapan menghadapi terjangan investasi yang dibawa pemilik modal besar membuat orang Bali mudah lengah. Apalagi dalam perkembangan kekinian, pariwisata makin tak terbendung.

Kewaspadaan atas masifnya investasi akan berdampak negatif telah didengungkan sejak lama. Namun hanya ramai di wacana. Realitasnya, api pariwisata terus berkobar-kobar siap membakar apa saja yang ada di dekatnya. Hampir semua pihak menyenangi kobaran api pariwisata.

Demi api pariwisata yang tetap berkobar ini pulalah, pemerintah merogoh kocek untuk membangun infrastruktur pendukung. Salah satunya, jalan Tol Trans Jawa–Bali sudah diwacanakan oleh pihak Kementerian PUPR. Ini untuk mempermudah wisdom dari Jawa menuju Bali. Trase-nya dimulai dari Tol Gilimanuk-Tabanan yang akan terhubung dengan jaringan Tol Trans Jawa yakni Tol Probolinggo-Banyuwangi.

Baca juga:  Mangkrak, Pengolahan Pupuk Organik di Kalianget Senilai Rp 1 Miliar

Uniknya, pihak daerah kurang mengetahui rencana ini. “Mitra kita di eksekutif belum ada menyampaikan. Ini kan baru berita di media online,” ujar Ketua Komisi III DPRD Bali I Kadek Diana, Rabu (22/1).

Diana enggan berkomentar lebih jauh. Dinas terkait di Pemprov Bali pasti bersurat ke DPRD Bali kalau memang ada proses yang melibatkan dewan. “Kalau kita mengomentari sesuatu yang belum final, belum jelas, belum ada, nanti malah pro-kontra duluan. Ujung-ujungnya terakhir rencana itu tidak jadi, kan sering begitu,” jelasnya.

Untuk memanjakan wisatawan asing, pemerintah telah melaksanakan banyak pembangunan. Yang sudah jalan, proyek perluasan Bandara Ngurah Rai dengan mereklamasi puluhan hektar. Lalu membangun shortcut Mengwitani-Singaraja demi Bandara Bali Utara.

Sementara untuk megaproyek akomodasi pariwisata kelas dunia juga terus saja mengincar Bali. Ada rencana pembangunan hotel mewah di dekat Tanah Lot oleh Donald Trump, pembangunan Diamond Sanur, atau Bali Majestic di Danau Batur. Semuanya memang masih wacana. Namun jika semuanya diamini, api pariwisata akan benar-benar makin berkobar siap membinasakan Bali. (Winata/Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.