Siswa SMK sedang membaca koran saat orientasi siswa baru. (BP/dok)

Berbahasa dimulai dengan keterampilan dasar menyimak. Kepekaan menyimak dan memahami makna yang diutarakan lawan bicara tentu akan mengantarkan kita paham dan mampu membicarakan secara verbal. Setelahnya, kita juga akan bergerak menuju tahapan membaca. Keterampilan dan ketekunan dalam membaca akan membuat kita bergerak pada kecakapan berikutnya  yakni berbicara.

Asumsinya, orang yang sering mendengar dan gemar membaca akan lebih fasih dalam berbicara. Ini karena mereka memiliki lebih banyak wawasan. Berbicara juga merupakan bentuk keterampilan yang lahir dari pemahaman dan pengayaan pikiran dari berbagai hal yang kita simak atau dengar dan membaca.

Sedangkan pada tararan berikutnya, kecerdasan dan keterampilan dalam berbahasa adalah menulis. Kecakapan yang terakhir inilah yang mengantarkan orang memiliki profesi. Profesional dalam menulis juga bisa menjadi semacam identitas diri dan kualitas diri. Pada dasarnya, empat keterampilan berbahasa inilah yang harus kita latih dan terus pertajam untuk menuju kecerdasan.

Dalam konteks kekinian, ketika kita berharap generasi milenial menjadi penggerak kehiduan berbangsa dan bernegara, maka mereka juga harus gemar membaca. Dengan membaca mereka akan menjadi generasi yang memiliki wawasan.

Pergerakan selanjutnya dari pemahaman atas ilmu dan dinamika zaman tentu akan bergerak menuju pola pikir yang kreatif dan inovatif. Kini, kreativitas adalah modal untuk tampil sebagai generasi unggul. Berangkat dari asumsilah kita harus bergerak bersama membangun budaya membaca dan mengembangkan kecakapan berbahasa.

Budaya membaca bagi generasi milenial harus menjadi semacam keharusan untuk dijabarkan. Kita hendaknya jangan terjebak pada pola-pola pembelajaran kognitif semata tetapi kita harus mulai bergerak menuju ruang inovasi.

Baca juga:  Pencuri Pistol Kapolsek Negara masih Misterius

Makanya sangatlah relevan jika Menteri Pendidikan Kebudayaan Nadiem Makarim menantang guru melakukan inovasi pembelajaran. Guru jangan lagi terjebak pada tuntutan elementer yang merujuk standar administrasi. Guru dan ruang pembelajarannya harus menciptakan ruang komunikasi untuk lahirnya budaya pembelajaran yang menghargai individu. Penyeragaman dalam proses pendidikan pelan–pelan harus diarahkan pada pembelajaran yang mengakomodasi potensi individual.

Kembalai pada kecakapan membaca dengan membudayakan semangat literasi. Iklim literasi di kalangan generasi muda mesti dilakukan secara sinergis. Tidak hanya oleh kalangan akademis, sekolah, kampus dan sebagainya. Tetapi juga oleh kalangan orangtua yang memang lebih banyak mendapatkan sesi waktu bersama mereka.

Di tengah gempuran gadget serta informasi dunia maya yang tidak semuanya edukatif, maka tugas menjadi tentu lebih sulit. Kemungkinan mereka menjadi generasi yang ileterasi menjadi semakin terbuka.

Tereliminasi dari lingkungan sudah menjadi fakta yang tidak terbantahkan. Sudah ada di depan mata dan banyak keluhan dari para orangtua, guru, serta kalangan lainnya. Belum ada langkah strategis membuat mereka beralih pada hal yang lebih positif. Membiarkan mereka semakin asyik dan terasing dengan dunia maya tentu menjadi persoalan yang berbahaya.

Bacaan yang bermutu serta bergizi saja tentu tidak cukup. Mengombinasikannya dengan kemampuan serta potensi local genius di masing-masing daerah menjadi langkah yang barang kali sangat menjanjikan. Masing-masing daerah punya kekhasan, kekayaan, serta pengalaman hidup yang tentu sangat menarik untuk dikembangkan menjadi suatu ramuan serta olahan edukatif. Mereka akan menjadi sosok yang partisipatif dan evaluatif.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.