DENPASAR, BALIPOST.com – Ditengah-tengah perkotaan, ternyata masih ada ruang hijau berupa kebun tanaman pekarangan. Kebun ini berlokasi di Desa Ubung Kaja dengan nama Dasawisma Agro Pertiwi.

Kebun seluas 18 are ini dulunya adalah tempat pembuangan sampah. Namun dengan dorongan Kepala Desa serta warga, lahan ini kemudian disulap menjadi kebun yang ditanami berbagai macam tanaman pekarangan yang produktif mulai dari bumbu dapur sampai buah-buahan.

Ketua Dasawisma Agro Pertiwi, Sri Rejeki mengatakan awalnya tanah yang dikelola kelompoknya adalah tempat pembuangan sampah. Kemudian dari ide Kepala Desa setempat, mengajak masyarakat membersihkan lahan kosong ini dan kemudian menjadikannya kebun produktif. ”Lahan ini dulu punya orang cuma dibiarkan dan akhirnya menjadi tempat pembuangan sampah. Kemudian kami sewa jangka panjang untuk dijadikan kebun,” ujar Sri.

Dasawisma Agro Pertiwi saat ini memiliki 40 anggota. Setiap anggota kemudian diberikan jadwal untuk mengelola lahan dan menaman serta memeliharannya.

Setiap sore akan ada anggota yang melakukan pempupukan sampai menyiram. Adapun tanaman yang ditanam seperti daun bawang, cabai, pepaya dan lainnya.

Baca juga:  Lahan Pertanian di Gerokgak Rawan Kekeringan

Hasil panennya, selain dibagikan ke kelompok, juga sudah ada yang masuk ke swalayan. ”Kebetulan ada yang memfasilitasi untuk bisa masuk ke swayalan. Kami diminta untuk menyuplai daun bawang,” ujarnya.

Saat ini Dasawisma Agro Pertiwi sudah memiliki kebun bibit sendiri. Bahkan bibit yang mereka hasilkan sudah dibagikan ke kelompok untuk ditanam di masing-masing pekarangan.

Lanjut Sri, meski dulunya lahan pembuangan sampah, namun tanah di lahan yang mereka kelola cukup subur. Pihaknya seminimal mungkin tidak menggunakan pupuk kimia dan sebagian besar menggunakan pupuk kambing. ”Untuk kesuburan lahan kami gunakan pupuk kambing. Alasanya karena pupuk kambing bisa langsung dipakai. Jika pupuk sapi perlu dikeringkan dulu,” jelasnya.

Diakuinya dengan berkebun ini, selain pendapatan ternyata memberkan kepuasan batin tersendiri bagi para anggota. ”Apalagi saat panen. Jika lihat hasilnya bagus rasanya puas. Jadi dibanding pendapatan, kami lebih merasakan kepuasan batin,” ujar Sri. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.