DENPASAR, BALIPOST.com – Ni Putu Putri Suastini Koster melangkah perlahan di atas Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Denpasar, Sabtu (31/8) malam. Langkahnya tegap, sorot matanya tajam.

Dalam balutan kostum yang tampak berat, istri Gubernur Bali Wayan Koster ini lalu melantunkan doa. Sebelum akhirnya masuk pada larik-larik puisi “Merah Putih” yang diciptakannya sendiri.

Puisi dari Putri Suastini Koster menjadi prolog sebelum ribuan mata penonton disuguhi drama kolosal “Gajah Mada Reborn”. Drama kolosal dari Sanggar Pancer Langiit ini merupakan bagian dari acara hiburan rakyat yang digelar untuk memperingati HUT Ke-71 Bali Post.

Walaupun sukses tampil memukau, Putri Suastini Koster justru mengaku tidak biasa membaca puisi karyanya sendiri. “Smoga berkenan di penonton. Sesungguhnya ibu lebih suka baca puisi teman,” selorohnya saat ditemui usai pentas.

Namun demikian, perempuan yang akrab disapa Bunda Putri ini secara kebetulan menyukai Sumpah Palapa dari Mahapatih Gajah Mada. Puisi yang dibuatnya pun menjadi ikut terbawa, karena emosinya sudah disesuaikan dengan drama kolosal “Gajah Mada Reborn”.

Lewat puisi “Merah Putih”, Bunda Putri ingin menyampaikan pesan moral bagi seluruh anak bangsa untuk tetap menjaga kejayaan NKRI. Jangan justru diporak-porandakan dari dalam bangsa ini. “Ini pertama kali ibu baca (puisi buatan sendiri, red), karena ibu tulis sesuai dengan tuntutan dari fragmentari berikutnya. Puisi ini kan prolognya,” imbuh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali ini.

Baca juga:  Derita Penyakit Aneh, Pria Ini Penuh Benjolan di Sekujur Tubuh

Menurut Bunda Putri, puisi yang dibuatnya sendiri sebetulnya lebih ke puisi-puisi “kamar” untuk perenungan. Inspirasinya terkadang mengalir begitu saja.

Ketimbang membaca puisi sendiri, ia lebih suka membaca puisi karya Dhenok Kristianti yang berjudul Sumpah Kumbakarna dan Karna Sebelum Laga. “Jadi sangat ekspresif, bagus dibaca. Jadi, membuat kita bagus berekspresinya,” imbuhnya.

Terkait HUT Ke-71 Bali Post, Bunda Putri berharap surat kabar pertama dan tertua di Bali ini ke depan bisa menjalin kerjasama yang lebih erat dengan Pemprov Bali. Mengingat, media adalah partner pemerintah untuk menyampaikan hasil-hasil kerja dan apa yang sudah dicapai.

Termasuk memberikan kritik-kritik terhadap kinerja pemerintah. Berita-berita yang dibuat agar tidak menciptakan suasana panas di masyarakat.

Namun sebaliknya, mesti mengedukasi dan membuat masyarakat menjadi semakin bijak. “Ajarkan anak muda kalau setuju sampaikan kepada orang lain, kalau tidak setuju sampaikan kepada pemimpinnya. Karena kalau kita menghujat pemimpin, pemimpin itu adalah yang bertugas di pemerintahan dan pemerintahan itu adalah sang guru wisesa. Jadi kita harus hormat pada sang catur guru,” pungkasnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.