SINGARAJA, BALIPOST.com – Kebakaran hutan di Buleleng kembali terjadi. Hutan yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) terbakar Minggu (4/8). Akibatnya, ada sekitar 30 hektare kawasan hutan terdampak kebakaran.

Selain semak dan rumput liar, vegetasi tanaman hutan ikut terbakar dan pohon terancam mati. Penyebab kebakaran hutan ini masih dalam penyelidikan TNBB.

Namun, diduga kebakaran ini karena faktor kesengajaan dengan membuat titik api di dalam kawasan hutan. Informasi dikumpulkan di lapangan, titik api diketahui secara tiba-tiba mulai sekitar pukul 14.00 Wita.

Saat dilaporkan, titik api menyebar di beberapa lokasi kawasan Hutan Pahlengkong di sebelah utara Jalan Singaraja-Gilimanuk, persisnya di Banjar Dinas Banyuedang, Desa Pejarakan Kecamatan Gerokgak. Titik api dengan cepat merembet membakar semak dan rumput liar yang sudah kering.

Selain itu, percikan api juga membakar ranting dan daun pohon. Percikan api semakin banyak menyebar karena angin kencang, sehingga kebakaran terus meluas.

Regu Pemadam Kebakaran (Damkar) TNBB dikerahkan. Mereka dibantu Dinas Pemadam Kebaaran (Damkar) Buleleng dan beberapa pengusaha wisata di kawasan ini melokalisir kobaran api agar tidak semakin meluas.

Banyaknya titik api, membuat asap tebal terlihat jelas dari pinggir jalan. Situasi ini menyita perhatian pengguna jalan yang kebetulan melintas.

Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna membenarkan kejadian tersebut. Ngurah Krisna mengatakan, dari kejadian ini pihaknya memperkirakan areal hutan yang terdampak kebakaran hutan sekitar 30 hektare dari total kawasan hutan lindung seluas 19.026,97 hektare.

Terkait penyebab kebakaran, Ngurah Krisna menyebut, pihkanya masih melakukan penyelidikan. Namun demikian, kebakaran hutan saat kemarau seperti sekarang berpotensi terjadi karena sulitnya mengawasi warga yang bebas keluar masuk kawasan hutan.

Baca juga:  Long Weekend, Penyeberangan dari Banyuwangi Alami Peningkatan

Aktivitas warga di dalam hutan mulai dari mencari rumput untuk pakan ternak, ada juga warga yang memburu lebah madu. Diduga aktivitas seperti ini memicu terjadinya kebakaran hutan. Pasalnya, ada yang membuat titik api dan tidak dipadamkan dengan baik. “Secara pasti belum kita ketahui dan anggota kami masih melakukan penyelidikan. Kayaknya ini karena kesengajaan karena sangat sulit kita awasi warga masuk hutan dan bisa saja membuat titik api dan lupa dipadamkan. Selain itu kami curiga ada yang membuang puntung rokok, sehingga hutan terbakar,” katanya.

Ngurah Krisna menambahkan, memasuki kemarau pihaknya mengoptimalkan patroli untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan. Hanya saja, dibandingkan luas kawasan hutan dengan personel di lapangan tidak sebanding sehingga pemantauan ini belum optimal.

Untuk memaksimalkan pencegahan kebakaran hutan, TNBB telah membentuk kelompok partisipasi masyarakat dari desa sekitar kawasan hutan. Kelompok yang dijuluki “Warga Peduli API” ini setiap kemarau aktif membantu mencegah kebakaran hutan.

Kelompok ini juga gencar mengedukasi warga agar sadar mencegah kebakaran hutan dengan tidak membuat titik api atau membuang puntung rokok ketika berada di dalam hutan. “Kami tidak menutup mata dan memang kebakaran seperti ini lepas dari pengawasan kami karena memang keterbatasan personel. Namun kami merangkul warga sekitar kawasan hutan untuk bersama-sama mencegah agar kebakaran hutan tidak terulang,” jelasnya. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.