Ilustrasi. (BP/ist)

Oleh Romi Sudhita

Orang yang tergolong lanjut usia (Lansia) mendapat predikat yang bermacam-macam di masyarakat. Lebih-lebih Lansia itu tadinya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ada yang menyebut Lansia itu sebagai “barang rongsokan”, ada pula yang memandang sebagai “laskar tidak berguna” dan masih ada predikat lain yang intinya mengarah pada ketidakberdayaan lansia itu sendiri.

Menurut ketentuan yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), bahwa Lansia dibedakan menjadi dua, yaitu lansia awal berusia 46–55 tahun, dan Lansia akhir berusia antara 56–65 tahun. Baik lansia awal maupun lansia akhir keduanya memiliki permasalahan yang tidak jauh berbeda. Sama-sama werda dan sama-sama kurang mendapat perhatian dari lingkungan sekitar.

Permasalahan lansia apabila dibuatkan daftar tentu akan menjadi teramat panjang. Secara simpel sebut saja empat permasalahan lansia, yakni; permasalahan ekonomi, penurunan daya ingat, kesepian, dan masalah kekhawatiran terhadap sesuatu hal. Permasalahan ekonomi.

Secara alamiah para lansia yang sudah dalam kondisi tidak prima lagi tentu akan memengaruhi aktivitas dan produktivitas. Itulah sebabnya PNS ataupun ASN yang sudah dianggap tidak cakap kerja, dinilai oleh pemerintah sebagai orang yang layak memasuki masa pensiun alias purna tugas alias purna bhakti. Purnawirawan, kalau mereka itu berada pada jajaran TNI–Polri.

Dari penurunan kemampuan daya kerja tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada pengurangan pemasukan dari sebelum berstatus Lansia atau pensiun. Sebagai suatu contoh, PNS yang tadinya menerima gaji pokok sebesar Rp 2 juta menyusut menjadi Rp 1.500.000 (75% dari gaji pokok). Segala tetek-bengek tunjangan dengan sendirinya hilang tanpa bisa diajak kompromi.

Permasalahan penurunan daya ingat. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa orang yang menyandang predikat lansia akan mengalami penurunan daya ingat. Hal itu sering diplesetkan menjadi “PDI atau PDIP” (Penurunan daya ingat, atau penurunan daya ingat permanen). Istilah Bali-nya “bongol sing ningeh.”

Kalau sudah demikian, apa yang bisa diharap dari para lansia? Sungguh miris memang. Jika ada yang membisikkan sesuatu ke telinga lansia, harap dimaklumi karena yang bersangkutan sudah tidak bisa berkomunikasi sebagaimana wajarnya orang normal. Hal itu akan berpengaruh pada aktivitas fisik plus penghasilan yang mereka dapatkan.

Masalah yang ketiga kesepian. Berdasarkan hasil percakapan bebas dengan para lansia, umumnya mereka mengaku kesepian ketika memasuki masa lansia. Seakan orang-orang di sekelilingnya pada menjauh, padahal dia sendiri tidak mempunyai masalah apa dengan mereka.

Sering diibaratkan sebagai kondisi “sepi dalam keramaian.” Maksudnya, situasi dan kondisinya memang ramai namun yang bersangkutan (lansia) sedikit sekali yang menyapanya entah karena apa dan mengapa.

Lebih-lebih lansia yang dulunya memiliki banyak anak buah seperti guru, lurah, camat, bupati, dst. tiba-tiba pensiun, tentu saja akan merasa sunyi dan kesepian. Dalam bentuk ekstrem, bisa jadi ia akan mengalami post power syndrome. Malah merembet sampai stres berat hingga stroke.

Kekhawatiran. Konon, sebagai masalah yang terakhir, para lansia sangat mudah dihinggapi rasa khawatir dan perasaan cemas terhadap sesuatu hal. Entah khawatir terhadap nasib istri, dan anak cucunya, cemas memikirkan apa yang akan terjadi nanti setelah tidak berdaya sama sekali.

Baca juga:  Hendak Foto PNS Dihajar Massa, Polisi Dikeroyok

Bahkan cemas terhadap kehidupan apa yang akan dialaminya setelah kematian, dan seterusnya dan seterusnya. Kegalauan hidup selalu membayang-bayangi dan menghantuinya. Agar para Lansia itu tidak larut dalam kecemasan, galau, dan khayalan yang tiada menentu, tampaknya sangat perlu digagas dan direncanakan secara lebih dini. Yang lebih penting lagi, agar upaya itu muncul dari mereka sendiri sebagai upaya yang benar-benar mandiri.

“SIPODiT” Inovatif

Di kota Singaraja, sudah muncul beberapa perkumpulan senam, jala-jalan santai saban hari atau ada yang memilih waktu Sabtu–Minggu. Soal tempat juga bervariasi, ada yang mengambil tempat di pantai, di sebuah lapangan terbuka, dan ada pula memilih di taman seperti yang sering penulis amati. Yang disebut terakhir ini memilih tempat di Taman Yuwana Asri yang lokasinya di pinggir Jalan Sudirman, depan SPBU Banyuasri.

Puluhan orang tua laki perempuan berbaur jalan-jalan singkat mengelilingi areal taman, sudah itu dilanjutkan dengan menikmati sinar matahari pagi antara pukul 06.30 – 09.00 Wita, bahkan dilanjutkan dengan diskusi kecil ngalor-ngidul seputar permasalahan yang mereka alami. Dalam hal menikmati sinar matahari pagi dan olahraga kecil-kecilan itu mereka pun menyebutnya dengan semboyan “SIPODiT.” Apa itu “SIPODiT”?

Made Wiguna yang pensiunan karyawan Kementerian Keuangan, dengan sigap menjawab, SIPODiT itu akronim atau singkatan dari Sinar matahari pagi, Istirahat yang cukup, Percaya diri, Olahraga yang terukur, Diet yang teratur, dan memperbanyak Teman. Sungguh piawai mengemas singkatan dan boleh dibilang inovatif juga, pikir penulis dalam hati.

Bukan hanya piawai dan inovatif mengemas singkatan, tapi yang lebih menonjol lagi, mereka secara konsekuen melaksanakan “ajaran” yang mereka ciptakan sendiri. Dalam diskusi kecil tersebut, sering pula penulis dengar kemunculan kata-kata “Berbagi dan bepergian.” Maksudnya tiada lain dan tiada bukan adalah di antara mereka saling berbagi pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki kepada teman sesama.

Salah seorang lansia bercerita secara vulgar bahwa dirinya sangat sulit menempatkan diri di antara anak dan sang menantu yang acap dianggapnya serba salah. Begitu pula si menantu terkadang merasa “cemburu” manakala suaminya terlalu dekat dengan ayahnya.

Pada saat seperti itulah permasalahan keluarga sering muncul, yang tidak menutup kemungkinan mengarah pada kasus KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga). Dan, secara berkala disepakati pula untuk menyelenggarakan kegiatan traveling (bepergian ke suatu objek wisata) sambil melakukan kegiatan dharma yatra ke beberapa pura. Sepertinya apa yang mereka rancang dan lakukan itu benar-benar nyata dan dapat dicapai sesuai status dan posisi mereka sebagai Lansia.

Bisa jadi, kelak dikemudian hari tidak akan pernah terdengar lagi sebutan atau predikat bahwa Lansia itu hanyalah “barang rongsokan, dan/atau laskar tidak berguna. Dalam beberapa sumber, penulis juga menemukan ungkapan bahwa Lansia harus tetap tegar, pantang menyerah, dan senantiasa berpikir serta berwawasan global-inovatif seiring dengan perkembangan zaman yang serba instan dan bernuansa serba online. “Kendati fisik sudah loyo, tenaga kian melemah, namun semangat tetap menyala seperti kaum muda pada umumnya,” kurang lebih seperti itu harapan orang-orang terhadap eksistensi Lansia masa kini.

Penulis, pemerhati pendidikan dan pengamat perilaku

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.