DENPASAR, BALIPOST.com – Dramatari klasik seperti gambuh, rupanya tak melulu “milik” seniman tua. Anak-anak pun bisa mementaskan tak kalah baiknya.

Seperti yang tampak dalam pementasan dramatari gambuh oleh Sekaa Gambuh Anak-anak Pasraman Bajra Jnana, Dusun Triwangsa, Desa Budakeling, Bebandem, Karangasem, di Kalangan Angsoka, Taman Budaya, Sabtu (29/6). Ketua Pasraman, Ida Wayan Oka Adnyana mengatakan, ada kurang lebih 50 anak berusia 5 hingga 13 tahun terlibat sebagai penari dan penabuh.

Mengajak anak-anak mempelajari gambuh bukanlah perkara mudah. Butuh waktu satu tahun untuk melatih mereka.

Namun, kerja keras itu terbayar dengan padatnya penonton yang menyaksikan pentas untuk memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI tersebut. “Banyak sekali kendalanya, pertama dari sisi karakter. Melatih karakter gerak gambuh ini berat. Dewasa pun sebenarnya agak berat, apalagi anak-anak yang setiap harinya bermain,” tuturnya.

Pertama-tama, lanjut Oka Adnyana, anak-anak mesti ditanamkan tentang gambuh di Budakeling sebagai kesenian warisan para leluhur. Oleh karena itu, kesenian gambuh wajib dilestarikan.

Setelah terus menerus ditanamkan demikian, barulah sedikit demi sedikit anak-anak mulai tertarik untuk belajar. Tantangan berikutnya, anak-anak belum pernah mendengarkan gambuh.

Apalagi, bahasa yang digunakan adalah Jawa Kuno yang sulit dimengerti oleh mereka. “Jadi kita mengajarkan sedikit demi sedikit tentang dasar-dasar tari gambuh agar mereka terus tertarik. Melatihnya harus sabar,” imbuhnya.

Baca juga:  Di Badung, Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Turun

Menurut Oka Adnyana, tampil di PKB bukanlah target utama dari melatih anak-anak. Sebab, yang terpenting adalah pelestarian karena gambuh telah ada secara turun temurun di Budakeling.

Inilah yang mendasari upaya regenerasi tersebut, karena kesenian gambuh juga sempat vakum lantaran bencana erupsi Gunung Agung. Padahal dua tahun lalu, gambuh khas Budakeling sempat dipentaskan oleh seniman dewasa.

Gambuh sendiri dengan cerita Panji-nya lahir di Jawa, tepatnya pada jaman kerajaan Majapahit. Kemudian berkembang pula di Bali, khususnya di daerah Pedungan, Batuan, dan Budakeling.

“Karakter gambuh di setiap daerah itu agak berbeda. Kalau di Budakeling, karakternya semua mencirikan aktivitas binatang. Seperti gelatik nuut papah, atau anak sapi yang menyusu,” katanya.

Oka Adnyana menambahkan, dalam PKB XLI dipentaskan kisah Prabu Mataram yang berkarakter keras atau penuh angkara murka dan Prabu Gegelang dengan karakter bijaksana. Lewat dua karakter tersebut, anak-anak diharapkan memahami bahwa kekerasan atau kekuatan tidak akan selalu menang.

Hanya dharma dan budi pekerti yang bisa mengalahkan itu. “Karena gambuh merupakan kesenian langka, kelompok-kelompok seni gambuh yang ada di Bali agar memberikan imbas ke daerah lain. Kemudian pemerintah agar menghidupkan lagi sekaa-sekaa gambuh yang hampir punah,” pungkasnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.