Pedagang kain di Pasar Kidul. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Rencana Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bangli memindahkan pedagang kain di lantai II Pasar Kidul ke Pasar Loka Crana, ditolak sejumlah pedagang kain di pasar setempat. Kabarnya pedagang yang enggan pindah telah melayangkan surat ke Disperindag, Bupati, dan DPRD Bangli.

Salah seorang pedagang kain ditemui di lantai II Pasar Kidul membenarkan bahwa dirinya bersama rekan-rekan pedagang kain lainnya sudah bersurat ke Disperindag, Bupati dan DPRD Bangli sekitar beberapa minggu lalu. Dalam surat itu, pada intinya pedagang menyatakan menolak pindah ke Pasar Loka Crana. “Suratnya dikirim sebelum acara pemlaspasan di Pasar Loka Crana. Tapi sampai sekarang belum ada tanggapan dan tindak lanjut,” ujar pedagang kain yang enggan disebutkan namanya itu.

Dia menjelaskan, ada beberapa hal yang menjadi alasan pedagang enggan dipindah dari Pasar Kidul. Diantaranya, karena ukuran kios baru di Loka Crana yang dinilai sempit yakni 2×2 meter. Ketika dipindah ke Pasar Loka Crana, pedagang kain nantinya tidak dibolehkan menempati lebih dari satu kios seperti yang saat ini dilakukan pedagang di Pasar Kidul.

Selain itu, alasan lain pedagang enggan dipindah karena adanya pengenaan sistem sewa. Menurut informasi yang diterima pedagang, saat menempati kios baru di Pasar Loka Crna pedagang akan dikenakan sewa Rp 10 ribu per hari yang wajib dibayar setiap bulan. Meskipun tidak berjualan. Berbeda dengan di Pasar Kidul sekarang. Pedagang hanya dikenakan retribusi Rp 8 ribu dan biaya listrik Rp 3 ribu per hari. Retribusi dipungut jika pedagang berjualan.

Baca juga:  Kios Sembako di Pasar Dauh Pala Terbakar

Hal lain yang juga menjadi alasan pedagang enggan pindah yakni karena kehabisan modal. Menurut pedagang untuk memindahkan barang dagangan ke Pasar Loka Crana, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Sampai sekarang saja saya masih kredit rolling door di sini. Karena waktu awal nempatin pasar ini, saya harus beli empat rolling door dengan harga satunya Rp 2 juta,” ujar pedagang kain yang tinggal di lingkungan Bebalang, Bangli itu.

Pedagang lainnya Made Adi Wiyono juga mengungkapkan hal serupa. Dia mengaku keberatan jika harus dipindah ke Pasar Loka Crana. Alasannya selain karena capek dipindah-pindah, dirinya juga keberatan dari sisi biaya.

Dia menuturkan pasca peristiwa kebakaran beberapa tahun lalu, dirinya sudah beberapa kali pindah tempat jualan. Bahkan dirinya sempat menyewa kios sebelum akhirnya berjualan di tempat sekarang, karena tak kebagian tempat relokasi yang disediakan pemerintah. “Dari sisi biaya berat, kalau harus pindah lagi. Lumayan modal yang harus saya keluarkan,” ujarnya.

Pedagang asal Banjar Tegal, Bebalang ini pun menyarankan kalau memang pemerintah berencana mengoperasikan Pasar Loka Crana agar mencari pedagang baru lainnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Kabupaten Bangli Nengah Sudibya hingga sore belum bisa dikonfirmasi terkait hal itu. Beberapa kali dihubungi wartawan, Kadis asal Penglipuran ini tak memberi jawaban. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.