Sejumlah perempuan menghabiskan waktu luangnya dengan mejejaitan. (BP/dok)

Kaum perempuan Bali patut bersyukur berkat perjuangan R.A. Kartini, kini mereka banyak menduduki jabatan penting. Yang lebih penting lagi, hasil survei BPS menunjukkan hampir 50 persen wanita Bali kini sudah bekerja.

Mereka bekerja di sektor formal dan sebagian lagi di sektor informal. Karena budaya masyarakat Bali memang mengharuskan mereka untuk bekerja, bukan hanya menjadi ibu pengasuh anak-anak di rumah. Mereka bukan hanya majejahitan untuk keperluan upacara, namun juga berjualan sarana upacara. Kaum wanita Bali sudah pintar memulai bisnis dan menangkap peluang. Ini semua karena ada rasa jengah melihat kemajuan wanita penduduk pendatang yang mulai mengancam eksistensi bisnis wanita Bali.

Sejumlah pengamat agama pun mengakui perempuan Bali dikenal memiliki etos kerja yang tinggi. Ketika perempuan lain hanya bertugas menjaga dan mengurus anak-anaknya, perempuan Bali sejak pagi sampai malam sibuk membantu ekonomi keluarga. Entah dia sebagai petani, buruh bangunan, penggali pasir, hingga menjadi profesi terhormat seperti guru dan pegawai serta kini politikus.

Kita bersyukur hasil sementara penghitungan Pemilu 2019 menunjukkan sejumlah perempuan Bali dinyatakan lolos ke lembaga legislatif. Mereka datang bukan saja dari kalangan puri, jero, namun sebagian dari masyarakat biasa. Ini namanya kemajuan luar biasa bagi wanita Bali. Bahkan dalam sejarah, perempuan Bali juga maju sebagai pemimpin perjuangan rakyat Bali seperti Istri Kanya di Klungkung.

Namun, dari segi psikis dan sosiologis, kesan perempuan masih termarginalisasi oleh mainstream pemikiran bahwa segala urusan keluarga adalah urusan laki-laki sudah mulai bergeser. Perempuan yang dulu terkesan tidak mempunyai otoritas urusan di luar rumah, apalagi urusan kepemimpinan, kini sudah mulai dilakoni kaum wanita Bali.

Baca juga:  Jenazah Berambut Panjang di Megati Dipastikan Wanita

Perempuan seakan terdesak di wilayah yang hanya mengurus rumah tangga. Dalam konteks demokrasi dan pemerintahan, mestinya tidak ada perbedaan hak antara perempuan dan laki-laki. Kita ketahui di Indonesia tidak ada undang-undang yang mengatur bila perempuan tidak diperkenankan memegang kekuasaan dalam pemerintahan.

Banyak sekali contoh kaum perempuan yang telah berhasil memimpin sebuah wilayah, baik menjadi kepala desa, camat, bupati, wali kota, bahkan presiden. Menurut catatan sejarah, kepemimpinan di negara-negara lain pun banyak memberikan bukti keberhasilan seorang perempuan. Di Pakistan ada Benazir Buto, di Inggris ada Margaret Teacher, dan masih banyak lagi pemimpin perempuan yang mampu dan berhasil membawa negara/masyarakatnya pada kesejahteraan.

Gerakan ini sudah menampakkan hasilnya di Bali. Di tengah era serbadigital dan modernisasi, perempuan Bali kian terangkat kiprahnya termasuk dalam politik. Suatu saat, kita akan pernah menyaksikan perempuan di Bali menjadi Gubernur Bali. Faktanya, budaya wanita Bali selalu diam, padahal jika dikasi kesempatan mereka mampu.

Banyak perempuan Bali yang doktor bahkan profesor. Kini, citra positif  perempuan Bali tak lagi identik dengan majejahitan. Banyak perempuan Bali yang mampu mengatur hidupnya antara keluarga dan profesi. Yang perlu didorong adalah keberanian mereka bahwa mereka mampu. Budaya de ngaden awak bisa harus diganti dengan titiang bisa.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.