hibah
Ilustrasi. (BP/dok)

BANGLI, BALIPOST.com – Sebanyak 85 subak di Kabupaten Bangli selama ini belum mendapat bantuan dana dari Provinsi Bali. Selain subak, terdapat satu desa pakrauangman yang juga mengalami nasib serupa. Kenyataan itu diungkapkan langsung Bupati Bangli I Made Gianyar saat acara tatap muka Gubernur Bali bersama seluruh komponen masyarakat Bangli di Wantilan Desa Adat Penglipuran, Minggu (31/3) lalu.

Gianyar megatakan banyaknya subak yang tak mendapat bantuan terjadinya karena adanya persoalan/kesalahan pada pendataan, sehingga menyebabkan puluhan subak itu tercecer. “Di Bangli saat ini sudah ada 318 subak yang mendapat bantuan dari Provinsi. Tapi di sisi lain, masih ada 85 subak yang tercecer, belum dapat bantuan,” terangnya.

Sementara satu desa pakraman yang disebutnya belum terdaftar untuk mendapat bantuan yakni desa Pakraman Peradi Juntal. Desa pakraman itu tercecer karena lokasinya berada di balik bukit. “Karena di balik bukit, tidak dapat informasi sehingga tidak didaftarkan,” ujarnya.

Gianyar mengatakan, untuk memberikan bantuan terhadap puluhan subak yang tercecer itu, Pemkab Bangli selama ini terpaksa menganggarkan dana bantuan dari APBD Bangli senilai Rp 50 juta untuk masing-masing subak. Menurut Gianyar, jika saja puluhan subak dan satu desa pakraman itu bisa masuk dalam data penerima bantuan pemerintah provinsi, maka tentu akan sangat meringanan beban APBD Bangli. “Karena itu melalui kesempatan ini, saya akan menyerahkan dua dokumen usulan kepada bapak gubernur. Kalau ini bisa diterima Provinsi, tentunya akan meringankan beban APBD Bangli yang sudah kecil,” harapnya.

Baca juga:  Zona Merah Peredaran Narkoba

Menanggapi pernyataan Bupati Made Gianyar, Gubernur Bali Wayan Koster dalam kesempatan tersebut meminta Pemkab Bangli agar secepatnya mengajukan usulan pemberian bantuan untuk subak dan desa pakraman yang tercecer itu. Sehingga bisa segera dianggarkan pemerintah Provinsi Bali. Koster kala itu sempat memuji keberadaan subak di Kabupaten Bangli karena jumlahnya yang masih banyak dan lestari. Dia membandingkan dengan subak di kabupaten lainnya yang kini mulai berkurang akibat alih fungsi lahan. (Dayu Rina/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.