Gubernur Koster. (BP/dokumen Pemprov Bali)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali Wayan Koster angkat bicara soal implementasi Pergub No.99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali. Terlebih setelah legislator di DPRD Bali menyebut penerapan peraturan ini serba salah.

Ditegaskan bila Pergub ini utamanya untuk menyerap produksi petani pada saat panen raya. “Jadi begini, belum tentu produk kita ini mencukupi kebutuhan yang ada. Nah, yang kita minta itu kan pada saat panen itu wajib menggunakan yang punya Bali,” ujar Koster di Denpasar, Selasa (26/2).

Di saat tidak panen, lanjut Koster, tentu harus menggunakan mekanisme lain. Hotel misalnya, dapat mendatangkan produk pertanian dari luar Bali.

Dengan catatan, produk tersebut jangan memakai merk Bali atau dilabeli sebagai produk lokal Pulau Dewata. “Jangan dong ditabrakin. Kan yang kita minta hanya pada musimnya. Kalau pada saat tidak musim, hotel memerlukan, kan boleh dong mendatangkan dari luar. Tapi jangan merk Bali, merk sono, nanti Bali lain,” jelas Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.

Koster mengaku serius untuk menggerakkan Pergub lantaran terkait dengan pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali. Saat ini bahkan tengah disiapkan SOP untuk implementasinya.

Baca juga:  Naikkan Harga Jelang Hari Raya, Polda akan "Sikat" Mafia Pangan

Implementasi Pergub 99 dinilai akan serba salah. Pasalnya, ada kemungkinan Pergub akan dilanggar dengan mendatangkan suplai dari luar Bali, namun diakui sebagai produk lokal. “Serba salah itu lho. Umpamanya menyangkut buah, dari segi kuantitas sangat terbatas. Kalau sudah tidak musim, tidak ada buah. Kualitas juga begitu,” ujar Ketua Komisi II DPRD Bali, Ketut Suwandhi.

Politisi Golkar ini menjelaskan, pasokan buah lokal di Bali seperti manggis, durian, dan pisang sifatnya musiman. Berbeda dengan misalnya Pulau Jawa yang tidak pernah berhenti menghasilkan apel.

Produksi lokal untuk memenuhi kebutuhan hari raya saja masih kurang. Apalagi ditambah untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan swalayan. “Untuk rahinan, untuk upacara saja masih kurang. Banyak kita disupport dari luar Bali. Terutama dari Jawa, Banyuwangi, kita datangkan pisang dan kelapa muda. Tiga hari saja tidak bisa nyeberang, keteteran sudah di Bali. Bukan mahal lagi, tapi tidak ada,” jelasnya.

Menurut Suwandhi, Bali masih sangat bergantung dengan produksi dari luar daerah. Bahkan bisa dikatakan, perekonomian di luar Bali justru dihidupkan oleh Bali. “Memang harus ke dalam dulu diberikan pelatihan-pelatihan, dibina kebun-kebun itu,” tandasnya. (Rindra Devita)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.