Perang siat api dilaksanakan di Desa Pakraman Duda, Selat, Karangasem, Senin (4/2) serangakain upacara Usaba Dodol. (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Tradisi perang api (siat api) dilaksanakan di Desa Pakraman Duda, Selat, Karangasem, Senin (4/2). Pelaksanaan tradisi tersebut serangakaian upacara Usaba Dodol yang bakal mulai dilaksanakan, Kamis (7/2) besok.

Persiapan perang api diawali dengan menggelar persembahyangan bersama di Pura Puseh Desa Pakraman Duda. Dari Pura Puseh peserta perang api bergeser menuju Jembatan Tukad Sangsang. Tim dibagi dua kubu, mengenakan kain dengan saput poleng tanpa menggunakan baju. Sementara untuk membedakan satu tim menggunakan udeng merah dan yang lainya menggunakan udeng putih.

Prosesi perang api sendiri dimulai sekitar pukul 18.00. Iringan tabuh baleganjur  membuat gelaran tradisi semakin semarak.  Percikan api menyembur setelah dipukul dengan prakpak dari.daun kelapa kering berisikan api. Seakan tak ada rasa sakit setelah terkana bara api. Mereka terus berteriak saling serang bergembira. Perang siat api ini melibatkan krama laki-laki di Desa Pakraman Duda. Dan tradisi ini dilaksanakan di Tukad Sungsang (Jembatan Sungsang), perbatasan Desa Duda Timur dengan Desa Duda.

Baca juga:  Karangasem Ajukan Empat Kebudayaan Jadi Warisan Tak Benda

Bendesa Pakraman Duda, Jro Komang Sujana, mengatakan, perang api yang dilaksanakan setiap tahun sekali bertepatan dengan ritual petabuhan sebuah ritual nyomia bhuta kala berkaitan dengan Aci Usaba Dodol yang dilaksanakan di Pura Dalem dan upacara Taur Gentuh di Pura Puseh, Kamis (7/2).

“Perang api menjadi puncak ritual pecaruan dengan membakar keplug-keplugan (terbuat dari bambu) yang dilaksanakan di masing-masing rumah warga,”ujarnya.

Sujana menambahkan, perang siat api ini merupakan tradisi secara turun temurun yang diwariskan oleh leluhur. Kata dia, tradisi ini sempat dihentikan setelah Gunung Agung meletus di tahun 1965, namun sejak tiga tahun terakhir tradisi adiluhung itu kembali dibangkitkan karena warga banyak yang mengkhawatirkannya jika tradisi tersebut tidak pernah dilaksanakan.

“Tradisi ini bermakna nyomia bhuta kala, demi keseimbangan alam semesta,” kata sujana. (eka prananda/balipost)

 

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.