Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (tengah) berfoto dengan kerabatnya di Jakarta, Kamis (24/1). (BP/ant)

Salah satu aktor politik yang menjadi pembicaraan umum dalam tiga tahun terakhir ini adalah Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan Ahok. Kita tahu, ia telah bebas dari menjalani humuman selama dua tahun. Dan banyak masyarakat juga tahu bagaimana kontroversi hukumannya sehingga mendapatkan perhatian dari luar negeri.

Ketika menjalani hukuman itu, banyak yang menduga bahwa para pendukungnya akan melakukan gerakan atau protes. Akan tetapi, sampai dengan pembebasannya hari Kamis yang lalu, tidak ada pendukungnya yang melakukan protes.

Bahkan yang muncul adalah sebuah film yang mengupas tentang kehidupan sosialnya pada masa lalu. Film ini laris manis di pasaran sampai jutaan orang menontonnya di seluruh Indonesia. Apakah film ini dapat dikatakan sebagai politik dan para penontonnya itu para pengikutnya? Tentu terlalu jauh untuk mengatakan ya.

Akan tetapi, ada satu hal yang harus kita perhatikan selama proses dan masa tahanan Ahok, yaitu ada komponen masyarakat Indonesia yang mampu menahan diri. Ini merupakan segmen positif yang kita lihat selama penahanan itu.

Sebagai orang yang mempunyai massa, bukan tidak mungkin “sang komando” mampu menyuruh pengikutnya melakukan gerakan politik apa saja. Tetapi yang kita lihat adalah keamanan, tidak ada gerakan apa pun selama ia di penjara.

Ini artinya, sebagai sebuah bagian dari anggota masyarakat, sesungguhnya kita mampu menahan diri, mampu melihat ada kepentingan lain yang lebih utama dan dengan demikian mampu juga melihat masa depan. Sesungguhnya kalau berbicara secara jujur, hal seperti inilah yang diperlukan Indonesia saat ini. Untuk apa?

Ya untuk membangun, untuk belajar agar segala sumber daya alam dan sosial yang dimiliki melimpah oleh Indonesia ini dapat dimanfaatkan dengan baik. Akan sangatlah sayang apabila hal itu tidak termanfaatkan semata-mata karena kita bertengkar dengan warga kita sendiri. Apalagi potensi itu kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak dari luar negeri.

Baca juga:  BTP Bebas, Pilih Keluar lewat Pintu Belakang Rutan Mako Brimob

Karena itulah, kiranya perlu untuk merenungkan agar stabilitas dan keributan tersebut tidak terjadi. Apalagi terjadi di ruang publik. Dengan melihat fenomena di atas, kembali kita katakan bahwa kita sesungguhnya mempunyai kemampuan untuk menahan diri.

Lepas dari apakah menahan diri itu merupakan kesadaran kelompok atau akibat dari arahan sang pemimpin. Kepentingan utama kita adalah adanya ketertiban dan stabilitas sosial. Ini merupakan modal utama untuk hidup dan mengembangkan kreativitas.

Seharusnya, inilah yang dicontoh oleh masyarakat yang lain. Tidak mudah terhasut oleh iming-iming yang lain, termasuk juga iming-iming uang. Apalagi yang berisi gerakan makar. Kesadaran seperti ini tentunya juga harus dimiliki sampai ke daerah-daerah.

Pada zaman global seperti sekarang dan demikian mudah dijangkau dengan alat komunikasi, hasutan dan jenisnya akan mudah menjalar ke daerah. Percekcokan dan pertentangan itu akan mudah juga menyebar ke daerah. Dengan kemampuan menahan diri, akan tercapai stabilitas sosial.

Di Bali pun harus demikin. Beberapa waktu lalu, ada komponen kelompok sosial yang kerap berkelahi. Yang konyol adalah berkelahi di tempat umum sehingga perempuan dan anak-anak dapat menyaksikan. Ini adalah tindakan bodoh. Ketika Kapolda membuat gebrakan, keributan itu lenyap. Maka, belajarlah menahan diri agar kita dapat hidup tenang dan menjalankan aktivitas dengan baik. Jangan terhasut oleh perintah-perintah tertentu.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.