Salah satu warga Banjar Sandan, Desa Bangli, Tabanan dirawat di RS. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Sejak merebak pada Minggu (13/1) hingga menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Banjar Sandan, Desa Bangli, Baturiti, tim surveilan Dinas Kesehatan Tabanan terus menggali informasi untuk menemukan adanya kemungkinan penularan diare selain air minum yang tidak dimasak. Hasilnya, tim mendapatkan informasi pada Rabu (9/1), sempat ada upacara manusia yadnya di banjar itu.

Dalam acara itu disajikan makanan olahan dari babi, baik lawar maupun komoh. Tim surveilan mendapatkan kemungkinan lain sumber terjadinya diare di banjar tersebut.

Menurut Kepala Seksi Surveilan dan Imunisasi Dinas Kesehatan Tabanan, I Nengah Suarma, Sabtu (19/1), pada awal terjadinya kasus diare, pihaknya mendapatkan pengakuan jika para pasien makan seperti biasa dan tidak ada upacara keagamaan. Hanya selama ini air yang mereka minum tidak dimasak. “Karenanya kecurigaan awal sumber penularan dari air minum. Petugas langsung mengambil sampel untuk diperiksa. Sampai sekarang belum ada hasilnya,” ujarnya.

Namun, pihaknya tetap menggali adanya kemungkinan lain. Akhirnya dari pengakuan pasien, pada Rabu (9/1) sempat ada pelaksanaan upacara tiga bulanan dan saat itu disajikan makanan olahan dari babi.

Tim kemudian mendatangi rumah yang menggelar acara. Dari sana didapatkan informasi jika saat upacara berlangsung lalat sangat banyak. “Di dekat sana juga ada peternakan ayam. Sehingga kami mengambil kesimpulan jika penularan lewat makanan bisa menjadi salah satu penyebab. Sayangnya tidak ada sampel makanan yang bisa diambil untuk diperiksa,” paparnya.

Baca juga:  Diduga Air Tak Sehat, Puluhan Warga Terserang Diare

Suarma melanjutkan, meski penyebab diare belum diketahui secara pasti, namun jika dilihat dari gejala diare yang dialami pasien serta masa inkubasi, diduga penyebab diare di Banjar Sandan adalah bakteri E. choli. “Selain sakit perut, dalam tinja pasien juga ditemukan darah. Ini adalah ciri dari infeksi E. Coli,” ujarnya.

Masa inkubasi E. coli adalah lima sampai tujuh hari. Jika pasien memakan makanan yang mengandung E.coli pada Rabu (9/1), gejala akan muncul pada lima hari kemudian. Pasien kebanyakan terkena diare pada Minggu (13/1) hingga Kamis (16/1). “Jadi sesuai dengan masa inkubasinya. Tetapi ini baru dugaan karena yang pasti tetap harus melalui pemeriksaan laboratorium,” ujar Suarma.

Selain mencari sumber penyebab diare, tim surveilan tetap melakukan penyuluhan kesehatan dan pengobatan keliling di Banjar Sandan. “Semua protap penanganan KLB sudah dilakukan,” ujarnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.