AP II melakukan transformasi digital dalam pengelolaan bandara. (BP/istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – AP II berkeyakinan bahwa diperlukan transformasi budaya kerja secara menyeluruh dalam proses pengelolaan kebandarudaraan. Dalam menjawab tuntutan perubahan industrial yang mengedepankan teknologi berbasis digital, manajemen Angkasa Pura II mengadopsi dan mengimplementasikan digital transformation.

“Penyempurnaan sistem dan kinerja perusahaan harus menyentuh sisi hard structure serta soft structure dimana keduanya saling berkolaborasi untuk mewujudkan layanan berbasis teknologi baru,” kata Presdir AP II Muhammad Awaluddin di Jakarta, Rabu (12/12).

Selain telah menerapkan sejumlah aplikasi berbasis digital (Soft infrastructure) sejak 2016, maka perlu internalisasi budaya kerja yang juga mengedepankan budaya yang telah bertransformasi ke arah digital (Digital Culture).

Menurut Awaluddin, AP II dalam mengimplementasikan budaya digital transformation telah membekali diri dengan 3 konsep dasar digital transformation. “Manajemen memahami bahwa tujuan kami kedepannya adalah mempersiapkan seluruh insan perusahaan untuk siap bertransformasi. Itulah kenapa kami mencetuskan digital transformation secara menyeluruh dengan dimotori 3 konsep dasar digital transformation yaitu driven by digital strategy, engined by digital leadership, dan strenthened by digital culture,” ungkap Awaluddin.

Secara singkat, dalam menjalankan proses bisnis bandara yang terus berkembang dalam era disruptive, Angkasa Pura II meyakini perlunya pendalaman digital strategy. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan modernisasi, manajemen telah mengambil langkah konkrit dalam penerapan sistem pelayanan berbasis digital. Hal ini untuk menjawab tuntutan pola konsumsi digital para konsumen bandara.

Baca juga:  Airport Digital Lounge, One-Stop Service Informasi bagi Penumpang

Oleh karenanya, pihak manajemen Angkasa Pura II berinisiatif untuk memberikan pemahaman serta mengedukasi seluruh senior leader hingga karyawan dalam menerapkan transformasi digital di lingkungan kerja. Penerapan konsep digital transformation terus digaungkan dari level tertinggi perusahaan hingga menyentuh seluruh karyawan. Coaching serta mentoring menjadi tanggungjawab para senior leader guna membumikan budaya digital perusahaan.

Awaluddin juga menjelaskan bahwa produk layanan berbasis digital kini telah dirasakan  manfaatnya oleh seluruh pelanggan bandara. “Secara perlahan namun pasti, kami hadir dengan potret wajah perusahaan yang berbeda. Sejak 2016, kami telah meluncurkan produk digital baik dari sisi service maupun operasional bandara. Kita punya digital lounge, chatBOT, Indonesia Airports App, digital kiosk, e-payment, mobile check in, Airport Operation Control Center (AOCC), dan beberapa produk layanan lainnya,” tutup Awaluddin.

Program Transformasi Digital ini selaras dengan konsep Transformasi korporasi yang terdiri dari 3 yakni Transformasi Bisnis & Portofolio yg dilakukan dengan pengimplementasian Airport Digital Business seperti pengembangan aplikasi travy & travypay untuk traveling, Transformasi Infrastruktur dan Sistem Operasi dengan pengimplementasian AOCC untuk sebagai penerapan Airport Collaborative Decision-making (ACDM) untuk mengefektifkan operasional bandara, terakhir adalah Transformasi Sumber Daya Manusia dimana saat ini sedang dilakukan transformasi kultur digital untuk mendorong SDM yang kompeten dan didukung dengan Digital Savvy Organization. (Nikson/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.