Petani I Ketut Suhardika tengah mengecek tanaman cabai miliknya. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Petani mengeluhkan tanaman cabai yang mulai layu. Kondisi ini terjadi para lahan pertanian di seputaran Desa Tojan, Kecamatan Blahbatuh. Tanaman cabai yang mendadak layu ini diduga terjadi akibat terus di terpadu hujan beberapa hari lalu. Kondisi ini pun diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap harga cabai menjelang Galungan yang berlangsung pada akhir Desember ini.

Petani di Desa Tojan, I Ketut Suhardika di temui Rabu (12/12) kemarin menerangkan kondisi tanaman cabai yang layu sudah terjadi sejak beberapa hari lalu. Dikatakan tanaman cabai layu karena terus menerus diguyur hujan. “Seluruh bagian tanaman layu, daun, batang sampai buahnya juga layu,” keluh Suhardika.

Akibat tanaman yang layu, cabai mereka tidak bisa tumbuh subur. Kata Suhardika, wabah layu itu secara merata menyerang seluruh tanaman cabai di lahan miliknya seluas 5 are. “Karena air hujan kan mengandung garam. Makanya tanaman layu,” ujarnya.

Baca juga:  Dijatah 15, Tabanan Realisasikan 13 Embung Pertanian

Dia menambahkan, tanaman layu itu tidak menimpa dirinya saja. Bahkan ada petani lain di lahan cabai yang luasnya mencapai 50 are juga mengalami hal serupa. ” Ya Itu banyak rugi jadinya, karena tanaman layu, ” ujar petani yang juga berdinas di Satuan Resnarkoba Polres Gianyar itu.

Rusaknya tanaman cabai petani berdampak pada kenaikan harga cabai. Apalagi dla beberapa Minggu ke depan juga akan ada perayaan Galungan dan Kuningan. “Di pasaran sekarang cabai Rp 20 ribu sekilo, mungkin nanti bisa naik lagi, ” jelasnya.

Suhardika sendiri sudah melakukan antisipasi dengan menanam tanaman selain cabai. Yakni menanam kacang panjang. ” Kalau kacang panjang  masih bagus tumbuhnya, tinggal menunggu Galungan saja. Kacang sekarang sekilo Rp 7 ribu di pasaran,” tandasnya. (manik astajaya/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.