MANGUPURA, BALIPOST.com – Meluwes Coffee Luwak Bali merupakan salah satu produk lokal yang ikut berpartisipasi dalam pameran The Soul of Bali. Pameran ini digelar serangkaian World Conference On Creative Economy (WCCE) 2018 di Creative Village, BNDCC, Nusa Dua, sejak Rabu (7/11).

Ada sejumlah pejabat yang mampir dan mencicipi kelezatan kopi luwak merk lokal ini. Mulai dari istri gubernur Bali, Putri Suastini Koster, Menteri Luar Negeri, Retno L.P. Marsudi, hingga perwakilan delegasi WCCE dari berbagai negara. “Antusiasme pengunjung dan peserta sangat bagus. Responnya positif bertanya tentang proses produksi, bagaimana kopi luwak itu kita dapatkan, bagaimana kopi luwak itu diproses,” ujar Owner Meluwes Coffee Luwak Bali, Raka Santhi Harmini.

Menurut Santhi, kopi luwak termasuk kopi termahal di dunia dan menjadi idola di kalangan penikmat kopi “sehat”. Pasalnya, kopi luwak rendah kafein lewat proses fermentasi dengan bantuan enzim luwak.

Meluwes Coffee Luwak Bali utamanya menyasar pasar internasional. Di beberapa tempat yang disupport, penjualannya terhitung bagus.

Begitu pun nilai jual dan respon pasar yang dituju sangat positif. Kondisi ini memberikan harapan gemilang bagi petani kopi luwak. “Kalau pasar utama kopi luwak adalah wisatawan yang datang ke Bali. Tapi beberapa negara tujuan ekspor kita ada di Florida, Polandia, Korea, Cina, terakhir kita punya channel juga di Rusia,” jelasnya.

Baca juga:  Hendak Diekspor ke Vietnam, Bibit Lobster Bernilai Milyaran Rupiah Diamankan

Salah satu pengunjung, lanjut Santhi, merupakan perwakilan dari Dubai yang akan menjadi tuan rumah WCCE 2020. Setiap tamu utusan negara juga diberikan cenderamata kopi luwak.

Pihaknya berharap, pemerintah dapat terus membantu dari sisi pemasaran dan rutin mengevaluasi kesehatan luwak melalui dinas terkait. Selama ini, kendala yang dihadapi saat ingin memperluas pasar adalah terbatasnya kuota kopi luwak yang dihasilkan. Di samping jumlah luwak yang masih terbatas.

“Pernah kita mencoba melakukan tetapi kami kalah di kuota karena mereka menginginkan 500 kg per bulan, jadi 6 ton per tahun di Polandia. Itu sudah kita rintis selama 3 tahun akhirnya gagal. Jumlah barang yang dia minta tak kami punya,” katanya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.