Suasana di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. (BP/ist)

Dunia penerbangan komersial negeri ini lagi-lagi berduka. Jatuhnya pesawat maskapai Lion Air menambah kelam sejarah dunia transportasi nasional.

Khusus soal Lion Air, entah sudah berapa keluhan konsumen dicuatkan. Mulai dari jadwal terbang yang tidak tepat waktu, penumpang yang merasa ditelantarkan, sampai kecelakaan yang berujung maut. Tidak hanya maskapai ini, tetapi juga yang lainnya. Faktor delay yang kebanyakan jadi keluhan penumpang.

Sebagai negeri kepulauan yang rentang wilayahnya luas, Indonesia memang sangat perlu moda transportasi massal. Apakah itu transportasi darat, laut, maupun udara.

Tetapi sayangnya, banyak kita temukan armada transportasi yang tidak laik. Walaupun demikian, tetap saja digunakan sehingga fatal akibatnya. Tidak hanya kualitas armadanya. Juga kuantitasnya. Dan jangan juga dilupakan kecelakaan transportasi yang terjadi di negeri ini terjadi akibat lemahnya pengawasan dan tidak disiplin.

Dengan luas wilayah dan banyaknya jumlah penduduk, transportasi berbasis massal ini memang mutlak. Massal dan murah. Memang selama ini, baru ini kriteria yang setidaknya terpenuhi. Sedangkan kriteria nyaman dan aman, belum. Masih jauh dari harapan.

Baca juga:  Lion Layani Umrah Sembilan Kota

Itulah sebabnya pemerintah sebagai regulator, jangan jadikan ini sebagai suatu dilema terus-menerus. Masyarakat memang perlu moda angkutan yang murah, tetapi jangan abaikan keamaman.

Pemerintah mesti tegas menegakkan aturan ini sehingga masyarakat yang menumpang kendaraan di darat merasa aman, di laut, di danau, serta di udara.

Setiap ada kecelakaan  transportasi, selalu saja kita merasa kecolongan dan mestinya belajar dari pengalaman. Tetapi, kita sepertinya tidak pernah melakukan hal itu.

Kecelakaan yang terjadi lebih banyak karena human error, tidak hanya karena kelalaian sopir, masinis, kapten kapal, pilot atau sebagainya tetapi juga kelaikan moda angkutnya. Penumpang juga ikut berperan dalam timbulnya sebuah kecelakaan. Tetapi di luar itu, sistem di mana pemerintah memegang otoritas sering kali tidak bekerja optimal.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.