Umat Hindu sedang melaksanakan ritual Tumpek Landep. (BP/wan)

Oleh I Gusti Ketut Widana

Awalnya, ritual Tumpek Landep yang diperingati setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep (210 hari sekali), dimaksudkan sebagai otonan sarwa landep, dalam hal ini alat persenjataan tradisional yang secara fisik berujung lanying (runcing/lancip), seperti keris atau tombak. Makna teologisnya, ritual Tumpek Landep merupakan realisasi konsep bakti sebagai pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Dewa Pasupati agar berkenan menjiwai produk pikiran (idep) dalam wujud karya cipta yang bertujuan melindungi umat dari segala hal yang membahayakan dirinya.

Mengingat setiap produk karya cipta pikiran manusia selalu hadir bermata dua, bisa menyelamatkan sekaligus menyesatkan, malah menyengsarakan. Secara filosofis,  sebenarnya Tumpek Landep adalah otonan idep sebagai bentuk penghargaan atau penghormatan kepada pikiran, sumber dari segala sumber lahirnya aneka rupa ide, gagasan atau konsep yang menjadikan umat manusia berkemajuan guna meningkatkan harkat, derajat, dan martabat hidup dan kehidupannya.

Seiring  waktu dan kemajuan zaman dengan segala produk ilmu pengetahuan dan teknologinya, terjadi pergeseran dari teologi berorientasi rohani turun derajat ke tataran ideologi di ranah materi. Ide awalnya, ritual Tumpek Landep sebagai otonan idep (mengasah dan menajamkan pikiran) yang disimbolisasikan lewat produk senjata tajam, belakangan objek ritual persembahannya lebih tertuju pada bahan baku yang menjadikan produk teknologi tercipta, terutama yang berbahan dasar logam.

Jadilah kemudian, pada Tumpek Landep bukan idep (pikirannya) yang di-otonin, tetapi justru pada produk idenya berupa perangkat teknologi berbahan logam, dalam hal ini lantaran telah menjadi bagian keseharian memperlancar aktivitas manusia, disimbolisasikanlah wujudnya berupa kendaraan bermotor. Sehingga seperti sudah menjadi kelaziman, Tumpek Landep pun sering kali disebut sebagai otonan motor.

Jangan heran, tatkala rerainan Tumpek Landep, di jalanan berseliweran aneka jenis kendaraan (motor/mobil) berhiaskan gantung-gantungan. Kini, selain tetap ngotonin aneka senjata dari yang tradisional (keris, tombak) hingga modern (alutsista militer), berbagai rupa  produk teknologi modern lainnya seperti komputer, TV, laptop, kamera, peralatan mesin, dll. juga di-otonin.

Sejatinya, hakikat Tumpek Landep adalah imanensi Sang Purusa agar terus menjiwai   Sang Pradana, diri sendiri sebagai unsur materi agar tetap dihinggapi dan memiliki spirit kesadaran Adikodrati yang diharapkan menjadikan diri manusia mataksu. Bahwa hidup ini atas anugerah idep dari Hyang Widhi dapat berlangsung dalam kesinambungan yang bermuara pada pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan.

Namun, disadari juga bahwa kehidupan dengan segala kemampuan dan kesempatan yang digenggam manusia melalui piranti ilmu pengetahuan dan terutama perangkat teknologi yang dihasilkan idep (pikiran) dapat pula menjadikan manusia berada pada posisi dilematis, berujung manis atau berakhir tragis.

Ketika perangkat teknologi mampu membuat manusia bersikap teknofilia, maka pemanfaatannya semata-mata untuk memajukan kehidupan manusia atas dasar cinta kasih. Tetapi, melebihi kecintaan pada teknologi bisa melahirkan sosok manusia teknomania, gila teknologi yang membuatnya merasa super hebat lalu mendayagunakan perangkat teknologi, lebih-lebih dalam bentuk senjata canggih dengan daya bunuh tinggi, untuk menyalurkan  naluri hewan membinasakan, hingga menghancurkan peradaban.

Baca juga:  Komplotan Maling Motor Diringkus di Kos Elit

Efek psikologis teknomania, melahirkan manusia teknopobia, selalu dihantui ketakutan (trauma) akibat dampak negatif dan destruktif yang ditimbulkan penggunaan perangkat teknologi tanpa disertai kejernihan idep (pikiran) dan kearifan hati (budi). Sehingga ketajaman idep yang tidak distimulus  kejernihan/kebersihan pikiran dan kearifan hati serta kepentingan sesama insani, bukannya mengantarkan manusia pada kehidupan yang saling menguatkan dan menyelamatkan, tetapi justru akan saling menyesatkan sekaligus menyengsarakan.

Sadar tentang efek ganda penggunaan perangkat teknologi, melalui pelaksanaan ritual Tumpek Landep diharapkan dapat menginspirasi dan memotivasi umat, agar dengan arif bijaksana menempatkan produk teknologi kekinian, apalagi yang super canggih sebagai teknopunia. Caranya, buah kehebatan idep (pikiran) manusia dalam bentuk perangkat teknologi dapat disumbangkan atau didedikasikan sebagai alat  mengangkat harkat, derajat dan martabat manusia sebagai makhluk terhormat, dengan tidak saling berkhianat atau main sikat, tetapi satu sama lain menunjukkan sikap saling memanfaatkan demi keselamatan bersama sebagai umat-Nya.

Ternyata, rerainan Tumpek Landep tidak sesederhana hanya sebagai ritual ngotonin atau mayasin motor, tetapi lebih dari itu dapat menjadi momentum kesadaran berilmu pengetahuan dan teknologi. Jika tidak demikian, sebagaimana disuratkan di dalam kitab suci Bhagawadgita, IV. 37: yathai ‘dhamsi samiddho ‘gnir, bhasmasat kurute ‘rjuna, jnanagnih sarvakarmani, bhasmasat kurute tatha (bagaikan api menyala, membakar kayu api menjadi abu, oh Arjuna, demikian juga api ilmu pengetahuan (dan teknologi) akan dapat membakar  segalanya jadi abu). Oleh karena itu, kitab  Manusmrtti V. 109 memberi tuntunan : Adbhir gatrani cudhyanti, manah satyena cudhyati, widyatapobhyam bhrtatma, buddhir jnanena cudhyati (hendaknya, jika tubuh dibersihkan dengan air, maka pikiran dibersihkan dengan kejujuran, lalu roh dengan ilmu dan tapa, dan akal manusia dibersihkan dengan kebijaksanaan).

Singkat kata, pelaksanaan rerainan Tumpek Landep dalam konteks kekinian, tidak boleh berhenti di tataran ritual dengan hanya ngotonin motor, tetapi wajib diteruslanjutkan ke tingkatan intelektual (jnana) melalui usaha pembersihan/penjernihan idep (pikiran) berdasar kearifan hati (budi pekerti) agar terdoktrin mindset, bahwa amanat ngalandepin idep (menajamkan pikiran) adalah untuk menyelamatkan kehidupan manusia. Bebas dari hasrat mempertajam efek negatif piranti teknologi, semisal lewat produk aplikasi di dunia medsos yang belakangan kian akrab dengan hoax plus konten ujaran kebohongan atau kebenciannya, yang sangat membahayakan kelangsungan hubungan antarsesama yang berbeda.

Jadikan momen ritual Tumpek Landep sebagai motivator, inspirator, sekaligus motor bagi usaha memajukan kehidupan umat manusia, hingga mencapai dan menikmati jagadhita dan moksa.

Penulis, dosen Fakultas Pendidikan dan Seni Unhi Denpasar

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.