Nyoman Adi Arnaya pemilik Yeh Pasih Leather menunjukkan bahan semi produk dari olahan kulit ikan di salah satu stan pameran Provinsi Bali, Jumat (19/10) di GWK. (BP/edi)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Temu Karya Nasional, Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) dan Pekan Inovasi Perkembangan Desa dan Kelurahan (Pindeskel) 2018 di Garuda Wisnu Kencana (GWK) secara resmi dibuka Presiden Joko Widodo, Jumat (19/10). Event yang digelar selama tiga hari ini, akan menampilkan pameran produk dan juga teknologi dari masing-masing desa di seluruh provinsi di Bali.

Pada stan pameran pemerintah provinsi Bali, ada satu kerajinan yang unik dan masih jarang dikembangkan masyarakat. Yaitu kerajinan kulit ikan untuk di olah menjadi berbagai produk siap pakai. Seperti yang dipamerkan di stan Yeh Pasih Leather yang memajang berbagai produk Exotic Fish Leather atau kerajinan dari kulit ikan.

Ditemui Jumat (19/10), Nyoman Adi Arnaya pemilik Yeh Pasih Leather menjelaskan, untuk kerajinan ini, pihaknya menggunakan beberapa jenis kulit ikan.

Menurutnya, semua jenis kulit ikan bisa diolah menjadi kerajinan, seperti kulit ikan baramundi, kakap putih, kakap merah, ikan mahi-mahi dan sejumlah ikan lain. Menurutnya, di Bali, pemanfaatan kulit ikan untuk bahan kerajinan tangan baru dilakukan olehnya. Sedangkan, di Indonesia baru ada sebanyak 3 pengerajin.  “Pesaingnya dari luar negeri, yaitu kerajinan dari kulit ikan salmon,” pungkanya.

Diungkapkannya, potensi kerajinan dari kulit ikan ini memang masih sangat potensial. Apalagi di Indonesia potensi perikanan di Indonesia juga sangat luar biasa. Menurutnya, dulu produk kulit ikan yang paling primadona adalah kulit ikan pari. Namun, diakuinya saat ini populasi ikan pari sudah mulai menurun. Untuk itu, pihaknya memilih untuk mengolah jenis ikan lain.

Pihaknya memiliki target atau visi kedepannya yaitu Indonesia bisa menjadi produsen kulit terkemuka dunia terutama kulit ikan. Karena Indonesia memiliki potensi ikan no 5 terbesar di dunia. Selain itu garis pantai  yang terpanjang kedua di dunia. Serta dilalui garis katulistiwa yang merupakan surga bagi ikan. Untuk itu pastinya keberadaan ikan di Indoneaia melimpah.

Baca juga:  Badung MoU dengan PTW, Target Datangkan 2 Juta Wisatawan

Untuk bahan baku, di mengaku sangat mudah didapat. Biasanya dirinya mendapat bahan baku di industri filet ikan di pelabuhan Benoa. Selama ini, di sentra filet ikan, dari satu ekor ikan baru 40 persen bermanfaat untuk daging filet. Sisanya itu sampah sebagian bisa untuk digunakan sebagai pupuk dan sisanya belum terpakai. Disinilah peluang itu muncul. Kulit fresh yang baru diambil belum bisa langsung diolah, namun harus digarami dulu dan disimpan hingga 7 hari. “Dari penyiapan bahan baku melalui proses penggaraman memakan waktu hingga 7 hari,” katanya

Dijelaskan, untuk proses pengolahan, berawal dari kulit ikan hasil filet, melalui proses penyamakan, dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Bahan pewarna yang dipakai sebagian besar dari pewarna alami, namun tidak semua warna bisa terpenuhi. “Jadi warna yang tidak bisa dipenuhi dari warna alami, bisa menggunakan warna sintetis yang aman digunakan,” kata

Adi Arnaya yang membuka workshop dan kantor di Perum. Bayusuta, Singaraja.

Untuk produksi kulit ikan ini, setiap jenis kulit ikan memerlukan waktu berbeda-beda. Namun secara rata-rata memakan waktu 12 hari.  Dari bahan baku hingga menjadi kulit semi produk memakan waktu 12 hari. Saat ini menurutnya, di tempat kerjanya, produksi baru sampai pada kulit semi produk. Sedangkan untuk diolah menjadi produk jadi, masih menyiapkan SDM. “Kulit ikan ini tergolong kulit exotic dan pasarnya high end yang pengerjaanya betul betul harus rapi,” terangnya.

Produk olahan kulit ini termasuk komoditi yang sangat diminati tentunya di kalangan menengah ke atas. Untuk peluang pasar, sebetulnya kebutuhan dunia baru terisi 30 persen untuk semua jenis kulit. Sedangkan untuk di Indonesia masih  20 persen. Di Indonesia baru ada 16 ribu pengerajin kulit yang sebagian bahan semi jadi didapat dari Impor seperti kulit kambing, sapi dan sebagainya. Bahkan ada juga kulit tersebut dari hasil pemburuan liar. (yudi karnaedi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.