Menteri Keuangan, Sri Mulyani (kiri) bersama CEO Bank Dunia, Kristalina Georgieva, saat memberikan keterangan terkait bantuan pasca bencana, Minggu (14/10) di Sofitel, Nusa Dua. (BP/edi)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Untuk rekonstruksi di daerah-daerah yang terkena bencana di Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Lombok, Bank Dunia memastikan akan mengucurkan dana hingga US$ 1 miliar kepada Pemerintah Indonesia. Bantuan berupa pinjaman lunak ini juga diharapkan untuk memperkuat ketahanan jangka panjang.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) Bank Dunia, Kristalina Georgieva, pendanaan yang dimaksud nanti akan tersedia berdasarkan permintaan dari Pemerintah. Tidak hanya itu, diluar dana pinjaman tersebut, pihak Bank Dunia juga akan memberikan hibah sebesar US$ 5 juta, untuk bantuan teknis bagi perencanaan terperinci untuk memastikan rekonstruksi akan bertahan dengan baik dan diterapkan berbasis masyarakat.

Dikatakannya, pada hari Jumat (12/10) dirinya sempat mengunjungi lokasi bencana di Palu, Sulawesi Tengah, bersama Wakil Presiden Jusuf KaIla. Setelah melihat kondisi disana, pihaknya sangat tergugah pasca melihat kehancuran dan mendengar kisah-kisah mereka yang terdampak bencana. ”Upaya bantuan dari Pemerintah sangat cepat, masif, dan mengesankan. Memasuki tahap rekonstruksi, kami menawarkan bantuan dana hingga US$ 1 miliar yang merupakan dukungan yang komprehensif untuk Indonesia,” pungkasnya.

Sementara, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, untuk paket bantuan Bank Dunia dapat mencakup dana transfer tunai untuk 150.000 keluarga termiskin yang terdampak bencana untuk jangka waktu antara 6 bulan hingga satu tahun. Penguatan sistem perlindungan sosial yang ada ini dirancang untuk mendukung ekonomi dan lapangan kerja lokal selama tahap pemulihan dan untuk menghindari kerusakan jangka panjang.

Paket bantuan US$ 1 miliar yang diusulkan juga dapat mencakup program pemulihan darurat baru yang mandiri untuk membiayai pembangunan kembali fasilitas publik dan aset infrastruktur penting. Seperti rumah sakit, sekolah, jembatan, jalan, jalan raya, dan infrastruktur pasokan air bersih. “Bantuan juga akan memperkuat sistem pemantauan dan peringatan dini, dan membantu membiayai rekonstruksi permukiman dan infrastruktur dan layanan di tingkat Iingkungan,” tambahnya.

Baca juga:  Bertambah, Korban Tewas Gempa 6,4 SR Jadi 10 Orang

“Pemerintah mengapresiasi perhatian dan dukungan dari masyarakat internasional pada saat kami membutuhkan, termasuk dari Grup Bank Dunia. Memulihkan kehidupan dan mata pencaharian masyarakat yang terdampak bencana alam adalah prioritas utama pemerintah, ” kata Sri Mulyani.

Diungkapkan, Bank Dunia baru-baru ini membuat laporan kebutuhan kerusakan awal yang mengukur distribusi kerusakan secara geospasial dan perkiraan biaya infrastruktur, properti perumahan dan non-perumahan yang terkena dampak tsunami di Sulawesi. Perkiraan kerugian fisik adalah sekitar US$ 531 juta (RP 8’07 triliun), dengan rincian sebagai berikut: Perumahan sekitar US$ 181 juta (Rp 2,75 triliun), Sektor non perumahan sekitar US$ 185 juta (Rp 2,82 triliun), lnfrastruktur sekitar US$ 165 juta (Rp 2,5 triliun).

Laporan awal tersebut adalah perkiraan kerugian ekonomi pertama berdasarkan analisis ilmiah, ekonomi dan teknik. Laporan ini tidak memperhitungkan hilangnya nyawa, kehilangan Iahan, atau gangguan terhadap ekonomi melalui pekerjaan yang hilang, mata pencaharian dan bisnis, dan merupakan masukan pertama untuk mendukung perencanaan pemulihan dan rekonstruksi Pemerintah Indonesia.

“Ibu Kristalina sudah mengunjungi lokasi gempa di Palu dan melihat sendiri bagaimana upaya-upaya pemerintah dalam menanggulangi pasca bencana disana. Beliau terharu sekaligus terkesan, karena pada saat yang sama kita juga mampu menyelenggarakan pertemuan tahunan ini dengan sangat baik,” pungkasnya. (yudi karnaedi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.