Ketut Wulan Ari Kartika Ardhaputri (kanan) foto bersama pembinanya, Ni Luh Made Merriyanthi Asmi setelah menjadi juara umum dalam ajang International Relations English Competition (IREC) 2018 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. (BP/Ist)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Kado manis kembali berlabuh di SMAN 1 Semarapura, Klungkung. Prestasi tingkat nasional berhasil diraih siswanya, Ketut Wulan Ari Kartika Ardhaputri dalam ajang International Relations English Competition (IREC) 2018 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Siswa asal Banjar Sangging, Desa Akah, Klungkung ini berhasil menyabet juara umum karena mampu unggul dalam kompetisi speech, story telling dan debate. Atas hal itu, ia menjadi satu-satunya delegasi Indonesia dalam Internet Governance Forum (IGM) di Prancis, 12 sampai 14 November 2018 mendatang.

Ditemui, Rabu (12/9) di sekolahnya, siswa empat bersaudara ini mengatakan kompetisi di FISIP UGM itu berlangsung 7 sampai 9 September lalu. Harus bersaing dengan 400 peserta dari sejumlah sekolah di Indonesia. Meraih prestasi gemilang bukan perkara mudah. Tidak seperti membalikkan telapak tangan. Ia harus melakukan persiapan matang, mulai dari materi hingga latihan rutin. “Persiapan ada sebulan,” ucapnya.

Baca juga:  Berprestasi, 3 Pejabat Utama Polresta Jadi Waka Polres

Kompetisi serupa pernah diikuti pada 2017. Hanya keberuntungan belum berpihak. Akan tetapi, itu tak membuatnya lesu darah. Keinginan untuk menjadi seorang diplomat membuatnya terus terpacu meningkatkan kualitas diri. “Dengan dapat prestasi sekarang, tentu sangat membanggakan,” katanya.

Siswa kelas XII IPA 1 yang fasih berbahasa Inggris ini sudah biasa mengikuti lomba sejak masih duduk di bangku sekolah dasar yang diselenggarakan sejumlah lembaga maupun perguruan tinggi di Bali. Sederet juara pun berhasil dikoleksi. “Kalau Bahasa Inggris sudah suka dari kecil. Terus belajar dan bisa seperti sekarang,” imbuhnya.

Pembinanya, Ni Luh Made Merriyanthi Asmi mengatakan perlu persiapan ekstra untuk menyabet juara itu. Yang diperlukan tak hanya kemampuan dalam menguasai Bahasa Inggris, namun juga harus didukung niat. “Awalnya, target bisa masuk enam besar saja. Tetapi syukur bisa menjadi juara umum,” ucapnya. (sosiawan/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.