Orangtua siswa SDN 1 Baktiseraga gotong royong membuat pagar darurat di areal sekolah Minggu (19/8). Pasca banjir bandang Januari 2018 lalu, skeolah ini rusak berat di mana pagar sekolah ambruk karena diterjang banjir dasyat. (BP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Orangtua siswa SDN 1 Baktiseraga, Kecamatan Buleleng melakukan gotong royong membuat pagar darurat di areal sekolah Minggu (19/8). Pagar ini untuk mencegah siswa keluar areal sekolah pada jam pelajaran dan mengantisipasi agar pihak lain tidak mudah keluar masuk areal sekolah.

Gotong royong dipimpin Ketua Komite Sekolah Putu Oka didampingi Kepala SDN 1 Baktiseraga, Kecamatan Buleleng Putu Ada. Guru dan pegawai di sekolah ini juga terlibat dalam aksi gotong royong tersebut.

Pagar darurat dibuat memakai bambu, kayu dan batang pohon kayu santen. Tanpa dikomando, orangtua siswa antusias memasang pagar darurat. Semua material pagar sementara ini sumbangan swadaya setiap orang tua siswa.

Ketua Komite Sekolah Putu Oka mengatakan, pemasangan pagar sementara ini karena pihaknya khawatir kalau lingkungan sekolah yang tanpa pagar pembatas itu menganggu kenyamanan anak didik saat beraktifitas di sekolah. Apalagi dengan jumlah siswa yang mencapai 324 anak membutuhkan pengawasan ekstra oleh para guru. Bukan hanya kenyamanan anak didik, namun lantaran areal sekolah terbuka tersebut dikhawatirkan akan terjadi tindakan kriminalitas di areal sekolah. Bahkan, dia sendiri pernah mendapat laporan dari guru pernah terjadi kehilangan sarana prasarana sekolah.

“Lokasinya dekat jalan raya dan rame lalulintas kalau jam istirahat anak-anak berhamburan di pinggir jalan, jadi kenyamanan mereka terganggu dan guru sulit mengawasi, sehingga kami sepakat untuk swadaya untuk memasang pagar sementara ini,” katanya.

Menurut mantan Kepala SDN 1 Baktiseraga ini, pasca banjir bandang Januari 2018 yang lalu, bukan saja merusak bangunan dan pagar sekolah. Lapangan anak-anak bermain dan upacara sekarang ini tidak tertata dengan baik. Setiap hari, ratusan anak-anak beradaptasi dengan lingkungan sekolah berdebu yang bisa menganggu kesehatan siswa. Selain itu, kondisi ruang toilet juga tidak memadai dengan jumlah siswa saat ini. Tak pelak, situasi ini membuat anak-anak harus keluar sekolah meminjam toilet.

Baca juga:  Siswa Kelas 1 SD Ditemukan Tak Bernyawa di Kolam Renang

Bahkan, tidak banyak anak-anak yang terpaksa menahan kencing atau buang air besar karena tiga ruang toilet itu kurang nyaman dan bahkan ada ruang yang rusak akibat bencana banjir bandang. “Harapan kami ada penanganan serius karena lingkungan di sekolah kami ini sangat tidak nyaman seperti ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala SDN 1 Baktiseraga, Kecamatan Buleleng Putu Ada berterimakasih dengan partisipasi para orangtua siswa yang memasang pagar sementara. Dia mengatakan, perhatian ini murni karena areal sekolah tanpa pagar pembatas dan sarana pendukung lain yang tidak memadai. Dengan penanganan sementara ini, pengawasan anak-anak lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya yang kesulitan mengawasi anak-anak karena sering berhamburan di pinggir jalan raya Desa Baktiseraga yang padat lalulintas.

“Tanpa bantuan orangtua siswa, mungkin sekolah kami ini tidak senyaman sekolah lain. Mudah-mudahan dengan penanganan sementara ini anak-anak sedikit nyaman dalam jam pelajaran,” katanya.

Terkait penanganan permanen, Putu Ada menyebut untuk pembangunan pagar permanen pasca banjir bandang ditangani dalam tahun anggaran 2019 mendatang. Pembangunan pagar ini sekaligus dengan pembangunan enam Ruang Kelas Belajar (RKB) baru. Hanya saja, berapa besarnya angagran, Putu Ada mengaku belum tahu karena program itu masih dihitung oleh Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora). Sementara toilet, dipastikan pada anggaran APBD Perubahan tahun ini akan diperbaiki. Nantinya, ada empat ruang toilet siswa akan dibangun dalam tahun ini. (mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.