Suasana di Pantai Karangsewu. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Selain Teluk Gilimanuk, obyek wisata alam yang belakangan tengah dikembangkan di ujung Barat Gilimanuk adalah Pantai Karangsewu. Meskipun sama-sama mengandalkan pemandangan alam pantai yang tenang berpadu dengan gugusan bukit Prapat Agung, namun ada perbedaan konsep pengembangan yang dilakukan.

Pantai Karangsewu yang berdampingan dengan PLTU Gilimanuk menonjolkan kesan alami mengingat lokasinya berada di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Sehingga dalam pengembangannya sangat minim menggunakan bahan berbeton atau bangunan permanen.

Sejak memasuki pintu gerbang masuk kawasan tersebut, tak terlihat pola jalur jalan menuju pantai apalagi beraspal. Sepanjang jalan menuju pinggir pantai masih berbentuk gundukan-gundukan tanah yang berdebu saat musim kering.

Bahkan di saat air laut pasang, sebagian lahan yang posisinya rendah tergenangi air rob mirip sungai. Sehingga pengunjung dipaksa mencari jalan yang lain yang tidak tergenang. “Memang di sana memang aliran air saat pasang, termasuk deretan pohon mangrove ini,” terang Suban, salah satu nelayan.

Dalam pengelolaan sejumlah spot berfoto juga mengedepankan bahan alami. Papan-papan peringatan dan tulisan hampir semuanya berbahan kayu. Dibandingkan dengan Teluk Gilimanuk, perahu yang melayani berwisata air juga bisa dihitung jari. Pihak TNBB masih membatasi hanya khusus para anggota kelompok nelayan penyanding TNBB.

Suban yang sebelumnya mengandalkan menangkap ikan, kini sudah memiliki sampingan. Perahunya digunakan untuk perahu wisata mengelilingi sekitar pantai. “Ada pemasukan diluar cari ikan, sekarang sudah mulai banyak yang ke sini. Terutama akhir pekan,” terangnya.

Baca juga:  "Togog Pemaon," di Pujawali Pura Dalem Munduk Bestala

Selain melayani para pengunjung, kelompok nelayan di sekitar Gilimanuk ini juga diwajibkan menjaga keamanan sekitar. Baik terkait kebersihan hingga orang yang masuk kawasan.

Pantai Karangsewu memiliki keunikan dibandingkan pantai lain di Bali. Selain air yang tenang, hamparan tanah di pinggir pantai bergantung musim.

Saat musim kemarau, pemandangan didominasi cokelat kering dengan hanya beberapa pohon yang hijau. Sedangkan di saat musim hujan, hamparan tanah lapang hijau menyerupai lapangan bola. Seperti karakteristik hutan musim yang merupakan salah satu jenis hutan di TNBB. Di sekitar kawasan ini juga menjadi habitat berbagai fauna termasuk burung Curik Bali atau Jalak Bali.

Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna mengatakan penataan tahun ini mulai dilakukan untuk menunjang pariwisata di Karangsewu. Diakui untuk jalan tidak menggunakan aspal melainkan paving blok.

Pengembangan sarana pariwisata diantaranya adalah pembangunan pedestarian untuk pengembangan wisata, pembuatan landmark, pembuatan shelter/sekepat di areal Karangsewu, pos pantau dan perbaikan dan pengembangan dermaga wisata. Selain itu juga pagar yang dibuat untuk disekitar Karangsewu. “Dengan pengembangan dermaga harapannya bisa diberdayakan untuk kegiatan mangrove tour,” ujarnya. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.