Ukiran gorilla dipahat di tengah-tengah lahan sawah terasering di Tegalalang. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Berbagai inovasi pengelola pariwisata terus dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Salah satunya melalui pembuatan ukiran gorilla dan pekak brayut di sawah terasering yang berlokasi di Tegalalang.

Dua pemandangan tidak biasa ini bisa dinikmati wisatawan di Luwak Coffee Alas Harum Agrotourism, Desa Tegalalang. Sawah terasering dengan ukiran gorilla dan Pekak Brayut ini berjarak sektiar 500 meter di sebelah selatan Objek Wisata Ceking, Tegalalang.

Pemilik luwak coffee, I Made Ardana (34) mengatakan awalnya ia hanya ingin berinovasi untuk menambah keistimewaan agrotourism yang dikelolanya. Setelah melihat kondisi alam di sekitar lokasi tersebut, akhirnya tercetus ide membuat ukiran seperti sekarang. “Awalnya di sini memang sawah terasering seperti di Ceking, dengan tanah yang tidak terlalu tebal. Setelah kami cek ternyata di bagian bawahnya itu ada batu padas,” terangnya didampingi 2 sepupu yang juga owner usaha ini, yakni Wayan Suarjana (30) dan Made Suardana alias Nano (35), Rabu (6/6).

Desain ukiran muka Gorila ini pun mengikuti alur batu padas di lokasi tersebut, tanpa ada penambahan material apapun. Murni dipahat dari batu aslinya.

Setelah sebulah lebih diukir, akhirnya terbentuk wajah gorilla dengan tinggi diperkirakan sekitar 12 meter dengan lebar 9 meter. “Kita ambil bentuk gorilla, karena ingin menonjolkan objek wisata dengan tampilan flora dan fauna,” ucapnya.

Tidak cukup di sana, bagian mulut ukiran gorilla ini pun dibuat menganga dengan tinggi sekitar 2 meter dan lebar 1,5 meter, sehingga memungkinkan wisatawan untuk masuk ke dalamnya. “Selain bisa berfoto, dalam mulut gorila ini wisatawan juga bisa melakukan yoga dan meditasi,” jelasnya.

Baca juga:  Beras Merah Cendana Segera Miliki Spesies Baru

Di sisi selatan ukiran Gorilla, Made Ardana dan sepupunya juga mengukir tebing batu padas menjadi perawakan Pekak Brayut. Dipilihnya ukiran tersebut untuk menunjukan sosok yang lucu, sesuai perawakan Pekak Berayut berupa patung kakek tua yang ompong yang sedang bercanda dengan banyak cucunya. “Kalau Men Brayut itu kan sudah lumrah, makanya kami buatkan pekak Brayut, sehingga terlihat lebih unik,” terang pria asal Banjar Bresela, Desa Bresela, Kecamatan Payangan ini.

Dikatakan sejak diunggah dalam akun instagram, proses pemahatan dua ukiran ini pun telah ditonton lebih dari 2,5 juta orang. Kini ukiran gorilla dan patung pekak brayut ini pun sedang dalam tahap finishing. Ke depan diproyeksikan menjadi spot selfie baru.

Semenjak 2 ikon baru ini dipajang, Ardana mengaku ada peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 50 persen. “Rata-rata per hari saat low season sekitar 800 orang. Saat high season, bisa sampai 3.000 pengunjung,” terangnya.

Ditambahkan Ardana, seperti halnya agrotourism lainnya, usahanya ini menawarkan proses pembuatan kopi luwak secara tradisional. Sebagai sarana rekreasi tambahan, terdapat 3 ayunan raksasa, beberapa spot selfie anyaman seperti sarang burung, dan juga olahraga ekstrem flying fox. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.