Mendag memberikan kuliah umum di Unud, Jumat (25/5). (BP/asa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Drs. Enggartiasto Lukita, Jumat (25/5) memberikan kuliah umum di Universitas Udayana (Unud) bertempat di Auditorium Widya Sabha, Kampus Unud Jimbaran. Dalam kuliah umumnya, Mendag memberikan tips dalam menghadapi perdagangan bebas.

Ia mengatakan jika menghadapi perdagangan bebas harus membuat terobosan kerjasama dengan negara lain. Pun dalam skala kecil.

Badung yang asetnya dan pendapatannya tinggi, juga tak lepas dari adanya sistem perdagangan yang korelasinya dengan daerah lain. Sehingga dikutip pula pernyataan Presiden Joko Widodo, yakni “Kunci pertumbuhan ekonomi negara kita bukan di APBN. APBN hanya stimulasi. Kuncinya hanya dua, yakni ekspor dan investasi.”

Enggartiasto mengatakan, bahwa Unud sudah menciptakan entreprenur-entrepreneur muda. Rasio wiraswasta di Indonesia termasuk rendah sekali. “Sehingga Bapak Presiden mendorong untuk segera melahirkan entrepreneur muda,” ucap Enggartiasto.

Ditambahkan, Udayana sudah memiliki badan usaha yang bisa mendorong mahasiwanya. “Tentu alumninya nanti membuat bidang usaha yang inovatif, yang kreatif. Saya kagum setelah menyaksikan beberapa hasil karyanya. Baik dari bank sampah, menjembatani antara sampah yang terbuang dengan bank sampahnya. Di situ mereka mendapatkan margin. Ini sesuatu yang luar biasa di Unud. Bahkan kulit ikan “limbah” kulit ikan bisa diubah jadi kripik. Ini luar biasa,” jelasnya.

Baca juga:  Persiapan IMF-WB Annual Meeting Sudah 91 Persen

Menteri yang juga mantan anggota DPR RI itu menambahkan, tidak banyak perguruan tinggi yang mau peduli kepada mahasiswa yang sudah lulus. Tapi Unud, sudah baik di bidang prodi, dan juga baik di luar itu yang sudah mencetak pengusaha.
“Negara membutuhkan wirausaha muda,” jelasnya.

Perdagangan bebas, sambung dia, merupakan keniscayaan. Tanpa membuka diri, maka kita semakin tertinggal. Oleh karenanya, jangan sampai tertinggal dari sisi ekspor. “Pasar bebas atau keterbukaan ada positif negatifnya. Negatifnya adalah kita menerima serbuan produk-produk asing. Untuk itu kita harus mempersiaplan diri. Yakni kualitas produksi. Penuhilan kebutuhan dalam negeri kita, kemudian kita masuk ke ekspor untuk bersaing dengan negara lain,” tandas Enggartiasto. (Miasa/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.