Ketua Komisi III DPRD Bali I Nengah Tamba. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Transportasi publik Trans Sarbagita selama ini selalu digelontor anggaran Rp 13 miliar setiap tahunnya. Namun, realisasinya masih belum efektif untuk mengurai kemacetan sesuai tujuan awalnya.

Agar tak mubazir lebih jauh lagi, Ketua Komisi III DPRD Bali, I Nengah Tamba mengusulkan agar anggaran itu dialihkan untuk sektor pertanian. Yakni, membentuk konsorsium yang akan membuat cool storage untuk menyimpan produksi buah-buahan lokal Bali. “Ide saya, kita punya Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Pertanian, Perkebunan dan juga Perusda agar membentuk konsorsium yang dimodali Pemprov dengan membuat PT baru, untuk bisa membeli seluruh hasil produksi pertanian se-Bali,” ujarnya di Denpasar, Rabu (18/4).

Menurut Tamba, petani selama ini tidak bergairah lantaran harga anjlok saat panen raya. Terutama petani buah lokal seperti rambutan, mangga, jeruk, durian, dan lainnya.

Jika terbentuk konsorsium, dinas terkait bertugas untuk melakukan pemetaan secara kongkrit mengenai hasil panen petani di setiap kabupaten. Setelah itu membelinya dengan harga pantas agar petani kembali bergairah. Tak hanya APBD, program pro rakyat ini juga bisa dibiayai APBN dengan mengajukan proposal ke pemerintah pusat. “Anggap sekarang 70 persen hasil panen petani itu dibeli, sesudahnya timbun di cool storage yang besar, mungkin sampai 1 juta ton agar buah-buah itu tidak busuk. Dari situ baru didistribusikan,” imbuh politisi Partai Demokrat asal Jembrana ini.

Baca juga:  Pengerjaan "Shortcut" Singaraja-Bedugul Tunggu Penyempurnaan Desain Rampung

Tamba menambahkan, Bali memiliki potensi pasar yang jelas. Mengingat, pulau ini dihuni oleh mayoritas umat Hindu yang selalu membutuhkan buah untuk kepentingan upacara agama. Seperti misalnya, hari raya purnama, tilem, tumpek, galungan, kuningan dan nyepi. Belum lagi untuk upacara pernikahan, kematian, dan lainnya. Kebutuhan buah bisa mencapai berton-ton. “Lalu yang kedua, kita kan punya Perda Buah Lokal, itu juga bisa diberdayakan oleh konsorsium dengan menjual buah-buahan itu ke hotel dan restoran di seluruh Bali. Kalaupun masih ada sisa buah, bisa dibuat produk minuman segar dengan brand misalnya minuman segar buah lokal Bali atau apa saja yang penting kualitasnya bagus dan mampu bersaing dengan kemasan yang menarik dan sehat,” papar pria yang lekat dengan julukan TMS (Tamba Menuju Senayan) ini.

Kalau sudah seperti ini, lanjut Tamba, petani akan merasa seperti PNS. Yakni, pergi pagi ke kebun dan pulang sore seperti PNS karena senang hasil pertaniannya mempunyai nilai. Setelah mereka mulai bergairah, tentu kesejahteraan petani juga akan meningkat. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.