Petani di Subak Giri, Desa Bumbungan, Kecamatan Banjarangkan, Rabu (4/4) menunjukkan lahan yang kerap diserang monyet. (BP/sos)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Petani Subak Giri, Desa Bumbungan, Kecamatan Banjarangkan dibuat pusing oleh aksi monyet. Tanaman yang dibudidayakan diserang hingga rusak. Bahkan, mengancam hasil panennya. Hal tersebut diakui petani, Dewa Gede Baru.

Dewa Gede mengatakan, serangan sudah berlangsung beberapa tahun belakangan. Monyet berasal dari Tukad Melangit, perbatasan Kabupaten Klungkung dan Bangli. Jumlahnya mencapai ratusan ekor yang terbagi beberapa kelompok. “Biasanya datang pagi dan siang. Bisa sampai ratusan,” tuturnya, Rabu (4/4).

Mamalia primata itu, sambungnya tak hanya menggasak buah kelapa. Namun juga merusak padi yang hendak berbuah dan bunga pacah. Hal ini menyebabkan hasil panen petani anjlok. “Tanaman benar-benar dirusak. Petani jadi berfikir menanam padi. Harus sabar menjaga seharian,” ucapnya.

Persoalan tersebut memang belum disampaikan ke pemerintah. Selama ini petani hanya bisa menghalau untuk kembali ke bantaran sungai. Sesekali juga ditakut-takuti dengan senapan angin. Langkah ini belum banyak memberikan perubahan. “Sekarang diusir, nanti datang lagi. Benar-benar harus menjaga tanaman disini. Sedikit saja ditinggal, pasti dirusak,” imbuhnya.

Penggarap lahan lainnya, Dewa Gede Anom membenarkan hal tersebut. Monyet juga menyerang tanaman jagung maupun kacang tanah yang belum memasuki masa panen. Kerugian pun tak terhelakkan. “Semua sawah yang dekat dengan sungai, padinya dirusak. Petani jadi enggan untuk menanam,” ucapnya.

Baca juga:  Puluhan Hektar Tanaman Padi di  Subak Sungi I Terserang Tungro

Ia yang sebagai Klian Tempek Conto Subak Giri juga mengaku tak bisa berbuat banyak mengatasi itu.

Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Gde Juanida mengatakan persoalan yang membelit petani itu sudah berlangsung sejak lama. Namun belum tergolong parah. Pihaknya sulit menangani lantaran tidak seperti hama tikus. “Kalau tikus kan bisa dibasmi langsung begitu saja. Kalau monyet atau kera kan tidak. Kami sudah koordinasikan ini dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA),” jelasnya.

Disampaikan lebih lanjut, serangan itu diduga karena lingkungan hidup kera mengalami perubahan. Ketersediaan pakan tidak lagi banyak seperti sebelumnya. “Memperbanyak tanaman buah di bantaran sungai memang bisa jadi salah satu solusi. Tetapi ini bukan bidang kami. Tetapi di Lingkungan Hidup dan BKSDA. Kami juga sudah sempat koordinasikan ini,” katanya.

Selain di subak itu, serangan monyet juga terjadi pada subak lain, seperti Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan. Hanya belum tergolong parah. “Dari Nusa Penida juga ada laporan seperti ini,” pungkas mantan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Klungkung ini. (sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.