GIANYAR, BALIPOST.com – Bersamaan dengan hari raya Pagerwesi, masyarakat Ubud akan menggelar piodalan di Pura Gunung Lebah, Ubud pada rahina Buda, Kliwon, Sinta, Rabu (21/3). Berbagai persiapan pun sudah mulai dilakukan sejak sepekan lalu di Pura Kahyangan Jagat yang berlokasi di dekat Jembatan Tjampuhan Ubud itu.

Pantauan Selasa (20/3), sejumlah krama nampak antusias melakukan persiapan piodalan di Pura yang berada di antara Tukad Wadon dan Tukad Lanang, Ubud ini. “Yang ngayah ini seluruh krama, dari Subak di seluruh wilayah Ubud, termasuk seluruh krama dari Desa Pakraman Ubud,” ucap pengempon pura, Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati, Selasa.

Dosen Unud ini mengatakan bahwa Pura Gunung Lebah sudah turun temurun di empon oleh Puri Ubud. Hingga kini diteruskan oleh tiga penglingsir puri yakni Tjokorda Gde Putra Sukawati, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dan Tjokorda Gde Raka Sukawati. “Sebagai kahyangan jagat memang Pura ini dulu di empon orangtua kami, dan sekarang ini kami teruskan,” jelasnya

Dijabarkan serangkaian piodalan di Pura Gunung Lebah ini diawali ngaturang pekelem, dilanjutkan dengan ritual melasti ke bukit Beji Tjampuhan, Ubud pada Selasa (20/3). Dilaksanakan pula rangkaian upacara mecaru untuk menetralisir kekutan alam sebelum upacara piodalan. “Hingga pada puncak piodalan yang bertepatan dengan hari raya Pagerwesi,” tambahnya.

Baca juga:  Begini Perayaan Pagerwesi di Buleleng

Ia berharap setelah rangkaian piodalan ini, dapat memberikan harmonisasi untuk segala yang ada, baik yang bersifat mikrokosmos ataupun makrokosmos. “Jadi kita tidak hanya mendoakan yang ada di Ubud, tetapi juga lingkup yang lebih luas yaitu alam semesta,” ucap pria yang akrab disapa Cok De ini.

Sementara itu berdasarkan purana, pura ini menjadi tempat semadi Rsi Markandya usai melakukan perjalanan dari Gunung Agung, dilanjutkan dengan merabas hutan ke arah barat. Tepat di ujung bukit paling selatan ada pertemuan dua sungai, yang di sisi timur disebut Tukad Wos Kangin, di sisi barat disebut Tukad Wos Kauh atau Tukad Wos Kawan.

Pertemuan kedua sungai itu lalu diberi nama pacampuhan, yang sama artinya dengan Panunggalan yang artinya bersatu. “Disinilah dulu Rsi Markandya meyoga atau semadi, setelah dari Besakih,” tandasnya. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.