Hembusan asap masih keluar dari kawah Gunung Agung. (BP/ist)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Sampai saat ini aktivitas vulkanik Gunung Agung masih cumup tinggi. Gunung tertinggi di Bali itu masih dalam fase kritis. Hembusan berupa asap masih terus keluar dari kawah.

Itu menandakan potensi terjadinya erupsi masih tetap terjadi. Hal itu diungkapkan Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, Minggu (17/12).

Devy Syahbana mengungkapkan, sampai detik ini aktivitas Gunung Agung g masih cukup tinggi. Hembusan berupa asap berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 1000 meter di atas puncak kawah masih terus teramati. Berdasarkan data per 12  hari terakhir terjadi sebanyak 21 kali hembusan, gempa Low Frekuensi 5, Vulkanik Dalam 4 dan Tektonik Lokal 1. I

tu artinya erupsi efusif maupun hembusan dan emisi asap masih terjadi dan menandakan kalau masih ada tekanan energi di dalam tubuh Gunung Agung. “Hembusan asap condong mengarah ke Barat sesuai dengan arah angin. Sementara kalau malam hari terkadang teramati sinar api,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, dari segi volume lava di dasar kawah sampai saat ini tidak ada perubahan yang signifikan. Kemungkinan kecil lava dapat memenuhi kawah dalam waktu yang singkat jika laju pertambahannya masih seperti sekarang ini. “Laju pertambahan lava terbesar terjadi pada periode 25-30 November 2017, dalam tempo 5 hari lava yang keluar sekitar 20 juta meter kubik atau sekitar sepertiga dari volume kawah. Dan sampai saat ini pertambahannya melambat,” katanya.

Baca juga:  Jika Gunung Agung Erupsi, Ini yang Harus Dipersiapkan

Dikatakannya, pihaknya bekerjasama dengan aeroterrascan kembali menerbangkan drone untuk memantau visual kawah dan mencoba mengukur gas untuk mengetahui evolusi konsentrasi gas magmatik terhadap waktu, apakah cenderung menurun, cenderung tetap (fluktuasi), atau cenderung naik pascaterjadinya erupsi beberapa hari lalu.

Kata dia, pada penerbangan Drone pertama memang sudah mendapatkan hasilnya. Hanya saja dengan hanya satu poin pihaknya belum bisa menentukan trend apakah gas mengalami peningkatan, fluktuatif atau penurunan pascaterjadinya erupsi efusif.

“Untuk memastikan itu kita harus beberapa kali mengambil sampling gas nya. Kita masih akan menganalisis kandungan gas yang dihasilkan dari beberapa kali perekaman yang kita diperoleh memakai drone. Termasuk dengan tambahan hasil terbaru.  Kalau sudah keluar hasilnya, kita akan sampaikan,” terang Devy Syahbana. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.