Warga diajarkan membuat kerajinan dari koran bekas. (BP/ina)
BANGLI, BALIPOST.com – Puluhan warga kurang mampu diberikan pelatihan keterampilan mengolah koran bekas menjadi aneka jenis kerajinan seperti bokor, sokasi dan wadah bunga sarana pemuspaan. Kegiatan pelatihan yang berlangsung di Banjar Padpadan, Desa Pengotan Bangli Selasa (21/11) itu diselenggarakan Dinas Koperasi UMKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bangli sebagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan dan menekan angka pengangguran di Bangli.

Dipilihnya kerajinan membuat bokor dan sokasi berbahan koran bekas sebagai materi latihan keterampilan mengingat penjualan produk tersebut di pasaran yang lumayan menjanjikan. Kepala Dinas Koperasi UMKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bangli Dewa Gede Suparta di sela-sela pelatihan menjelaskan kegiatan pelatihan keterampilan mengolah koran bekas menjadi aneka jenis kerajinan seperti bokor dan sokasi dilaksanakan selama tiga hari ke depan.

Dalam kegiatan pelatihan ini pihaknya melibatkan perajin bokor dan sokasi berbahan koran bekas asal desa setempat sebagai instruktur. Dia mengakui para peserta pelatihan cukup antusias mengikuti tahap demi tahap arahan yang diberikan instruktur. “Jumlah pesertanya ada 30 orang. Mereka semuanya adalah warga yang kurang mampu yang kita latih agar memiliki keterampilan untuk meningkatkan perekonomiannya,” jelasnya.

Baca juga:  Di Sela Tugas Rutin, Polisi Satu Ini Menjadi Relawan Kemanusiaan

Suparta menjelaskan, selama ini prospek penjualan produk bokor dan sokasi berbahan koran bekas lumayan cerah, hanya saja masih kurang promosi. Sebagaimana yang sudah dirasakan perajin yang menjadi instruktur dalam kegiatan pelatihan, bokor maupun sokasi berbahan koran bekas bisa laku dijual dengan harga Rp 150 ribu per buah. “Produk-produknya masih dijual di seputaran lokal seperti di Bayung Gede, Sekardadi dan Denpasar,” ujarnya.

Ditambahkannya meski berbahan koran bekas, namun bokor maupun sokasi yang dihasilkan perajin cukup tahan lama dan tahan air. Karena dalam proses pembuatannya ditambahkan lem sebagai perekatnya.

Dikatakan juga oleh Suparta bahwa kegiatan pelatihan seperti ini bukan pertamakali dilaksanakan. Dalam upaya mengentaskan kemiskinan, belum lama ini pihaknya juga sempat memberikan pelatihan keterampilan membuat dupa kepada puluhan warga miskin. “Selain itu kita juga sempat gelar pelatihan perbengkelan, tata rias, dan menjahit. Tapi kegiatan itu dananya dari pusat,” imbuh pria yang pernah menjabat Kepala Disperindag Bangli itu. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.