Makepung menjadi ikon pariwisata Jembrana yang perlu dilestarikan. (BP/dok)
NEGARA, BALIPOST.com – Atraksi makepung sebagai ikon dan daya tarik wisata unggulan Jembrana keberadaannya sudah diakui. Bahkan telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya nasional oleh pemerintah pusat melalui Kemendikbud.

Tidak hanya soal atraksi budaya serta nilai-nilai warisan leluhur sebelumnya, dalam atraksi mekepung juga terkandung nilai-nilai sportivitas, nilai kebersamaan diantara sesama sekehe. “Tidak ada protes berlebihan, semua peserta siap menerima apapun hasil dari juri. Inilah kultur nak Bali sesungguhnya yang patut kita tiru dari budaya Makepung,” ujar Bupati Jembrana, I Putu Artha, SE, MM saat menggelar tatap muka dengan sekeha mekepung se-Jembrana, Sabtu (18/11).

Karena itu, ia juga menyebut makepung ini tidak hanya milik Jembrana semata, tapi juga Bali secara keseluruhan sebagai aset pariwisata yang strategis dan potensial. Bahkan karena daya tarik dan keunikannya itu, cuma satu-satunya ada di Bali maupun internasional. “Makepung tidak hanya milik Jembrana tapi juga Bali yang mendukung industri pariwisata. Karena itu kami berharap event Gubernur Cup yang dulu pernah diadakan, bisa digelar Kembali guna lebih menggairahkan budaya makepung sekaligus mendukung pariwisata Bali secara keseluruhan,” cetus Artha.

Baca juga:  Jelang Putusan, Winasa Dijenguk Belasan Warga

Koordinator sekeha makepung Jembrana, I Made Mara mengapresiasi janji-janji Pemkab yang telah membenahi lintasan sirkuit maupun prasarana didalamnya. Mulai dari panggung komentator dan tribun di Sirkuit Kaliakah, sirkuit sang hyang cerik Tuwed serta di Sirkuit Delod Berawah yang bisa terealisasi tahun ini.

Selain itu juga dibangun sirkuit baru di Samblong yang dianggap lebih representatif, serta jalur lintasan guna mendukung pertunjukan wisata di anjungan cerdas Rambut Siwi Mendoyo yang tengah dikerjakan. “Tentunya hal-hal seperti ini memberikan kami semangat dalam melestarikan mekepung. Mengingat atraksi mekepung ini tergolong berbiaya mahal namun karena kecintaan dan keinginan melestarikan budaya makepung, sampai saat ini atraksi ini masih bertahan,” ujar Made Mara yang juga perbekel Desa Melaya ini. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.