gas
Tim dari PVMBG dan Tim Design Aero Terrascan saat menyiapkan drone untuk diterbangkan ke puncak Gunung Agung di lapangan Selat, Karangsem, Minggu (19/11). (BP/nan)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali menerbangkan drone ke puncak Gunung Agung. Penerbangan drone tersebut dilakukan untuk memantau visual dari puncak serta mengecek kandungan gas yang dikeluarkan oleh gunung tertinggi di Bali tersebut untuk dijadikan sebagai sampel.

Staf Ahli Madia Kandungan Gas PVMBG, Umar Rosidi, Minggu (19/11) mengungkapkan, pada Sabtu (18/11) pihaknya sudah sempat menerbangkan satu drone ke puncak. Hanya saja, karena ada gangguang pada pesawat, akhirnya gagal mendeteksi gas yang keluar dari dasar kawah Gunung Agung.

“Drone yang kita terbangkan sebanyak dua kali. Drone yang kita terbangan itu tidak dilengkapi camera. Karena hanya berisi sensor gas saja. Drone sudah mencapai ketinggian 1.200 meter. Karena ada masalah pada baterai, akhirnya drone kembali ke bawah,” ungkapnya.

Tim Design Aero Terrascan, Dirgantara Purnama menjelaskan, Minggu pihaknya kembali menerbangkan drone sebanyak dua kali untuk memantau gas di puncak Gunung Agung. Akan tetapi, karena terkendala di atas berawan, akhirnya pesawat kembali ke bawah. Sebab, kalau cuaca mendung seperti ini kondisi angin diatas menjadi tidak menentu. Sehingga pergerakan drone juga menjadi tidak menentu. Sehingga pergerakan tidak menentu itu, dapat membahayakan pilot yang dibawa. Mengingat alat yang dibawa sangat penting untuk mencari data dan informasi.

Baca juga:  Puluhan Pengungsi di Posko Induk Kubu Pulang

“Drone sudah sempat naik pada ketinggian 3.500 meter. Karena ada awan yang menutupi, makanya drone diputuskan untuk kembali ke bawah. Karena kalau cuaca tidak bagus, apalagi6 hujan akan percuma. Karena sensor yang kita bawa naik adalah sensor gas untuk mengambil sampel gas yang keluar dari kawah. Kalau hujan dan banyak awan, maka gas akan tercampur uap air. Sehingga pembacaan data-data gas yang dikluarkan dari kawah Gunung Agung tidak maksimal. Karena akan mempengaruhi hasil analisa,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, pihaknya sejatinya ingin kembali mencoba menaikkan drone untuk yang ketiga kalinya. Hanya saja, karena terandala cuaca hujan, sehingga kembali menunda penerbangan drone tersebut.

“Kalau hujan seperti ini tidak mungin akan menerbangkan drone ke puncak. Kemungkinan kita akan kembali terbangkan drone ke besok (hari ini red). Semoga saja kondisi cuaca mendukung, sehingga kita bisa kembali menerbangkan drone dan bisa mendapatkan sampel gas yang keluarkan dari kawah,” terangnya. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.