museum
Prof. Hinzler bersama Sugi Lanus saat ditemui di lokasi rencana pendirian Museum Lontar di Desa Dukuh Penaban, Karangasem, Selasa siang. (BP/gik)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Persepsi masyarakat Bali yang menganggap banyak lontar asli Bali berada di Museum Leiden, Belanda, ternyata keliru. Seorang peneliti lontar asal Belanda Prof. Dr. H.I.R Hinzler menyatakan seluruh lontar disana hanya berupa salinan atau transkrip, bukan lontar asli Bali.

Bahkan, Peneliti lontar Bali sejak tahun 1972, menyebut rencana Pemkab Karangasem membuat museum lontar di dekat Taman Budaya Candrabhuana, Amlapura, dengan misi untuk memulangkan seluruh lontar asli Bali, khususnya Karangasem, di Museum Leiden, sebagai tindakan sia-sia.

Saat ditemui di Desa Pakraman Dukuh Penaban, Selasa (14/11), Prof. Hinzler menyatakan sebelum lontar-lontar Bali di Museum Leiden itu ada, dulu Belanda melakukan pendataan secara formal dari tahun 1929, lewat Museum Gedong Kirtya. Tetapi, sebelum Belanda melakukan itu, sudah ada seorang peniliti Herman Neubronner Van Der Tuuk, yang membuat sebuah kamus Bahasa Bali dan Jawa Kuno.

Saat itu, dia mencatat dan mengajak beberapa orang menyalin lontar asli milik masyarakat Bali di atas kertas, sehingga selesai menyalinnya, lontar asli itu langsung dikembalikan. Hanya ada beberapa lontar asli yang dikumpulkan peneliti ini saat itu, karena diberikan sebagai hadiah, usai melakukan penelitian.

Lontar asli yang diterima sebagai hadiah usai peneliti saat itu, tidak lebih dari 200 lontar. Sedangkan, seluruh lontar yang sudah teregister di Museum Leiden Belanda sudah mencapai 6.000 lontar ketikan. Sementara, kalau melihat jumlah total lontar lengkap dengan yang versi digital, jumlahnya sudah ada sekitar 9.000 lontar.

“Saat itu, peneliti awalnya menyalinnya dengan menulis tangan, saat meneliti hukum adat Bali. Karena orang dulu di Bali juga tidak mau kasi minta aslinya. Jadinya pinjam, disalin, kemudian dikembalikan. Jadi, Belanda waktu itu bukan merampas,” kata Prof. Hinzler yang sehari-hari juga di Museum Leiden membantu mengurus museum tersebut.

Saat peneliti Belanda lainnya melakukan penelitian, seperti Prof Hooykas (Dosennya Prof. Henzler), juga mengalami hal yang sama. Jadi, dari ribuan lontar di Museum Leiden, dia menegaskan yang asli sebagai hadiah saat itu sangat sedikit dibandingkan yang salinan atau ketikan. Dia justru menyebut lontar Bali yang asli, sekarang lebih banyak ada di Pusat Dokumentasi (Pusdok) di Denpasar.

Peneliti Lontar Bali Sugi Lanus, saat ditemui di lokasi yang sama, menambahkan, saat tahun 1929 itu, Belanda ada project pengetikan lontar-lontar Bali. Prosedurnya, lontar masyarakat Bali dipinjam oleh tim kuratornya Kirtya. Di dalam kurator itu isinya ada sembilan pedanda dan ditambah dua orang Belanda, yang pekerjaannya memang seorang peneliti. Setelah dipinjam, kemudian disalin, diketik di tempat. Salinan ketikannya itu dulu dibuat rangkap enam. Hasil salinannya satu lembar selalu diberikan kepada Kirtya. Sehingga, hasil salinan lontar di Museum Leiden sekarang, sebagian besar sebenarnya juga ada di Museum Gedong Kirtya.

Baca juga:  Terlalu Dikeramatkan, Lontar Banyak Rusak Dimakan Usia

Sekarang masalahnya, pemilik lontar asli yang disalin itu dulu, dalam satu keluarga siapa yang memegang, ditaruh dimana, apakah sudah rusak atau bagaimana ini yang tidak diketahui nasibnya. Sebab, banyak masyarakat Bali yang justru tidak memperlakukan lontar-lontarnya dengan baik. Bahkan, pihaknya saat ini sedang mengecek 260 lontar asli di satu geria. 80 persen kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. “Syukur lontar-lontar asli Bali dulu pernah diketik atau disalin. Sehingga masih ada buktinya. Malah yang ada di Belanda sekarang itu sebenarnya hanya back up salinan lontar-lontar Bali,” tegasnya.

Sugi Lanus menegaskan, sekarang masih ada sekitar 2.850 lontar asli Bali yang saat disimpan di Pusdok, Jalan Juanda, Denpasar yang dikumpulkan beberapa sastrawan Bali. Museum bali juga punya sekitar 50 lontar asli Bali. Sekarang, desa adat atau pihak manapun yang kebingungan ingin mencari lontar aslinya, bisa dicek langsung di Pusdok tersebut. Bahkan, Sugi Lanus mengaku juga punya seluruh salinannya. Bagi yang ingin benar-benar tahu, dia mengaku siap menunjukkan, lontar yang diminta dalam databasenya. Sebab, beberapa desa adat di Bali, kebingungan menyusun awig-awig, karena pijakan lontar aslinya sudah tidak ada.

Disinggung soal pendirian Museum Lontar di Desa Dukuh Penaban, menurutnya, desa manapun bisa membangun museum komunitas. Ini menjadi penomena baru yang positif dalam pengembangan sastra Bali. Karena di komunitas di desa ini saja, sudah ada sekitar 400 lontar.  Nanti akan ditambah lagi dengan lontar-lontar yang menyerahpinjamkan untuk juga dipamerkan di tempat ini, agar bisa terawat dengan baik. Kalau dikumpulkan semua, rencana pembangunan museum lontar Dukuh Penaban ini sudah siap dengan 700 lontar.

Kalau nanti benar Pemkab Karangasem sendiri mau membangun museum lontar juga, menurutnya dia yang juga sebagai tim pendiri Museum Lontar Dukuh Penaban, tidak ada maksud membuat kompetisi membuat museum. Tetapi, yang dibutuhkan adalah saling melengkapi. “Nanti akan kami kerjakan apa yang tidak dikerjakan pemkab. Dalam sebuah museum lontar, nanti bisa ada beberapa paket kegiatan. Misalnya, aktivitas menyurat aksara Bali di atas daun lontar, workshop membuat daun lontar. Jadi, kalau ada yang mau belajar, bisa nanti diberikan tahapannya,” tegasnya. (bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.