Pengungsi
Jro Wayan Mas Suyasa, Klian Desa Adat Bugbug. (BP/gik)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Banyak lembaga tergerak untuk membantu pengungsi selama ancaman bencana Gunung Agung ini. Mulai dari lembaga pemerintahan daerah dan pusat, swasta hingga desa adat di Bali. Tingginya kepedulian masyarakat Bali membantu para pengungsi, tidak terlepas dari ajaran Tri Hita Karana yang ditanamkan sejak dulu, yakni hubungan manusia dengan manusia. Ini sebagai konsep dasar yang memupuk kepedulian terhadap sesama, yang sedang dalam kesusahan.

Konsep Tri Hita Karana inilah menggerakkan masyarakat Desa Adat Bugbug, untuk bersikap terhadap ancaman bencana erupsi Gunung Agung, yang mengancam masyarakat di lereng Gunung Agung. Masyarakat setempat sudah menggelar sembahyang bersama di Pura Bale Agung, sejak Gunung Agung masih level II atau waspada. Mendoakan agar Ida Sang Hyang Widhi memberikan jalan terbaik untuk kehidupan umatnya dan alam semesta ini. “Kita hanya bisa berdoa yang tulus. Gunung Agung akan meletus atau tidak, itu akan menjadi keputusan-Nya,” kata Klian Desa Adat Bugbug Jro Wayan Mas Suyasa, saat ditemui di rumahnya, Senin (6/11).

Selain menggelar doa bersama, Desa Adat Bugbug juga mendirikan Posko Pengungsi, untuk menggalang bantuan masyarakat setempat. Sejak naik menjadi status awas waktu itu, warga setempat berdatangan untuk memberikan bantuan sukarela, baik berupa uang maupun barang. Masyarakat sangat antusias mengumpulkan dana untuk membantu meringankan beban para pengungsi ini dari masyarakat lereng Gunung Agung.

Dana yang terkumpul dari upaya ini langsung disalurkan melalui Bantuan Pengungsi Gunung Agung yang dibuka Harian Pagi Bali Post. Dana yang terkumpul saat itu mencapai puluhan juta rupiah dan disalurkan secara bertahap.

Selain mengedukasi masyarakatnya untuk menumbuhkan rasa empati terhadap sesama, Mas Suyasa juga ingin memberikan contoh kepada masyarakat Bali di desa adat lainnya, untuk ikut tergerak membantu sesama. Sikap ini yang harus terus ditumbuhkembangkan kepada masyarakat Bali, agar semakin memaknai konsep itu dengan benar. Dia mengakui, memang sulit mengedukasi masyarakat. Tetapi, momen ini juga menguji kepemimpinan di desa adat mampu atau tidak mengedukasi masyarakatnya di desa. “Ini cara Tuhan untuk menguji kita, bahwa konsep Tri Hita Karana, khususnya hubungan manusia dengan manusia ini, tidak hanya sebatas slogan,” tegasnya.

Baca juga:  Disdik Bali Fasilitasi Pelaksanaan Pendidikan Bagi Pengungsi

Bantuan dana yang sudah terkumpul, disalurkan langsung ke Bali Post. Tetapi, untuk bantuan berupa barang disalurkan ke pos pengungsian. Dia mengakui menyalurkan ke Bali Post dengan berbagai pertimbangan. Selain percaya sepenuhnya bahwa bantuan itu akan dimanfaatkan dengan baik, sesuai kebutuhan pengungsi, penyaluran dengan cara ini juga lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Dia mengakui, ada yang mengusulkan agar bantuan dana yang terkumpul sebaiknya dibelikan barang dan menyalurkannya sendiri. Tetapi, cara ini dinilai riskan, menimbulkan gejolak dan rasa curiga di antara warga dan pengurus desa. “Bali Post sangat respons, kalau berkaitan dengan bantuan kemanusian seperti ini di Bali. Realisasinya juga jelas, untuk membantu masyarakat pengungsi, untuk apa saja dananya, bisa kita baca langsung,” tegasnya.

Dia berharap, bantuan yang dikumpulkan dari masyarakat Bugbug, ini bisa meringankan beban para pengungsi. Lebih dari itu, dengan cara ini rasa empati atau kepedulian masyarakat Bali bisa terus terasah. Karena itulah yang perlu dikembangkan dan ditekankan terhadap masyarakat di zaman sekarang. Tidak hanya dalam konsep hubungan manusia dengan manusia. Tetapi, juga hubungan manusia dengan Tuhan maupun manusia dengan alam sekitar. “Kita punya konsep seperti Tri Hita Karana, tapi banyak yang tak tahu cara memaknainya,” pungkasnya. (bagiarta/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.