Kefir. (BP/ist)
DENPASAR, BALIPOST.com – Bagi orang awam, kefir disamakan dengan yogurt karena rasanya. Namun dari sisi pengolahan, kefir berbeda dengan yogurt. Kefir tidak dibuat dengan cara dipanaskan.

Susu apapun bisa diubah menjadi kefir. Bahkan air bisa diubah menjadi kefir dengan menggunakan biji kefir. Biji kefir sebenarnya bukanlah biji-bijian, tapi lebih menyerupai gumpalan serupa keju yang dibuat dari bakteri dan jamur yang memfermentasi kefir. Walaupun terdengar menjijikkan, tapi sebenarnya tidak sama sekali.

Hasil akhir kefir adalah cairan lembut dengan konsistensi yang sempurna untuk dicampurkan ke dalam smoothies, atau krim kue Anda. Kefir juga bisa langsung diminum. Tergantung pada biji kefir apa yang Anda gunakan, rasanya bisa bervariasi. Mulai dari sangat ringan sampai sangat getir.

Kefir adalah minum dengan kandungan kalsium yang tinggi. Hal ini terutama bagus bagi mereka yang intoleransi laktosa.

Di dalam studi yang diterbitkan dalam Journal of the American Dietetic Association, para peneliti menemukan orang-orang dengan intoleransi laktosa tidak memiliki reaksi buruk setelah meminum kefir.

Satu gelas kefir bisa memberi Anda 20 persen dari kebutuhan kalsium harian, dengan hanya 90 kalori. Hal ini berbeda dengan yogurt yang mengandung 150 kalori. Secara kandungan protein, kefir juga lebih baik – satu gelas kefir mengandung 6 gr protein.

Baca juga:  Fitbar Gelar Aero Zumba Party 2017

Karena kandungan kalorinya yang lebih rendah, kefir lebih ampuh membuat Anda langsing dibandingkan dengan yoghurt.

Di samping kandungan proteinnya yang tinggi, pemimpin redaksi Men’s Health AS, David Zincenko, baru-baru ini mengumumkan bahwa kefir adalah salah satu makanan pembuat perut rata. Menurutnya kefir bisa disebut sebagai makanan pembuat perut rata karena kandungan probiotik yang kaya di dalamnya bisa mempercepat penurunan berat badan.

Penelitian dari University of Tennessee menunjukkan, mengonsumsi tiga sampai empat sajian produk susu setiap hari bisa membantu pria dan wanita menurunkan berat badan dibanding berhenti mengonsumsinya. Meningkatkan konsumsi produk susu, seperti kefir, diasosiasikan dengan indeks massa tubuh yang lebih rendah, lingkar pinggang yang lebih kecil, dan lemak tubuh yang lebih sedikit. Demikian menurut studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients. (Goes Arya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.