Sejumlah umat Hindu bersembahyang di Pura Besakih, Jumat (20/10). (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Meski Gunung Agung masih berstatus awas, akan tetapi tidak pernah menyurutkan niat krama Bali untuk ngaturang Bhakti ke Pura Besakih. Bahkan semenjak Besakih dikosongkan 22 September, Pura terbesar di Bali itu tidak pernah sepi pemedek. Hampir setiap hari pasti ada saja umat hindu yang ngaturang bhakti ke Besakih.

Berdasarkan pantauan Bali Post, Jumat (20/10), sejumlah masyarakat Hindu terlihat melakukan persembahyangan ke sejumlah Pura yang ada di Besakih, diantaranya di Pura Basukian dan Pura Penataran Agung. Mereka yang datang bersama dengan keluarga besar.

Ada juga yang datang sendirian. Selain umat masih banyak yang sembahyang, sejumlah warga masih tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Bahkan sejumlah warung yang ada di Besakih yang sebelumnya sempat ditutup, kini mulai buka kembali. “Saya baru buka warung kembali sejak dua hari lalu. Sebelumnya warung tutup. Karena saya tinggal mengungsi,” ujar salah seorang pedagang.

Sementara itu Pemangku Pura Penataran Agung Besakih, Jro Mangku Nyoman Artawan mengatakan, dirinya tetap ngaturang ayah di Pura Penataran Agung. Kata dia, sekarang ini dirinya ngayah berlima dengan memangku yang lainnya. “Setiap hari memang ada pemangku yang ngayah di sini (Penataran Agung red). Pura tidak pernah kosong dari pemangku. Hanya saja yang ngayah bergiliran sesuai jadwal yang sudah ditentukan dua hari sekali,” ungkap Artawan.

Baca juga:  Buat Panik, Anggota DPRD Sayangkan Pemkab Keliru Buat SK Erupsi Gunung Agung

Dikatakan Jro Mangku Artawan, pemedek yang tangkil ke Besakih tidak pernah sepi. Setiap hari ada saja pemedek yang ngaturang bhakti ke Pura Penataran Agung dan pura lainnya di seputaran Besakih.

Bahkan kata dia, dua hari lalu ada pemedek dari Bugbug yang mendak nuntun “Memang tidak pernah tidak ada pemedek yang bersembahyang. Setiap hari ada saja masyarakat yang sembahyang,” tegasnya.

Dikatakannya, sebelum status Gunung Agung naik ke level awas dan warga Besakih belum diintruksikan mengungsi, rutininas prajuru adat tiap hari ada yang makemit. Namun, setelah ada imbauan warga untuk mengungsi, tidak ada lagi rutinitas pemangku untuk makemit.

Hanya beberapa kali saja pemangku Penataran Agung yakni Jro Mangku Made Sueca yang sempat makemit. “Kalau sekarang pemangku yang makemit memang tidak ada. Kalau ngayah setiap hari ada. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.