Istri Menteri Koperasi dan UKM, Bintang Puspayoga, melihat kerajinan yang dibuat warga, Minggu (15/10). (BP/gik)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Ancaman erupsi Gunung Agung secara tidak langsung menunjukkan jati diri warga Bali. Para pengungsi tak berdiam diri, menghadapi situasi saat ini, tetapi tetap berjuang bertahan hidup dengan bekal kreativitas menganyam, menenun hingga membuat sarana upacara agar bisa dijual.

Seperti yang dilakoni warga Desa Peringsari, Kecamatan Selat, yang mengungsi ke Desa Sinduwati, Kecamatan Sidemen,mereka tiap hari membuat sok, lumpia hingga besek (bungkus salak) dari anyaman bambu. Mereka melakoni itu, agar tetap punya penghasilan untuk sekadar membeli lauk untuk makan.

Beruntung, keterampilan membuat kerajinan tangan seperti ini sudah biasa dilakoni sejak masih tinggal di Peringsari. Ini sudah menjadi keterampilan turun temurun warga di Desa Peringsari, sehingga mereka tak kesulitan harus berbuat apa saat berada di pengungsian.

Salah satu warga Desak Ayu Ariani, Minggu (15/10), mengatakan dalam sehari dia bisa menghasilkan lima sok ukuran sedang hingga kecil isian 5 kg. Satu sok dijual seharga Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu. “Untuk bahan baku bambunya kita beli disini. Kita garap dari pagi sampai malam sambil ngurus anak-anak,” kata Desak, warga Banjar Taman Dharma, Desa Peringsari ini.

Kerajinan ini dibuat keroyokan. Satu kelompok warga bisa terdiri dari lima sampai delapan orang. Ada yang khusus memotong bambunya, kemudian membelahnya hingga membagi-baginya tipis-tipis, agar bisa diolah. Sebelum diolah, potongan bambu dihaluskan agar hasil anyamannya lebih bagus. Warga cukup antusias membuat kerajinan ini. Sebab, para pengepul juga terus memburunya karena harganya murah. Tiap hari pengepul bergiliran datang untuk mengangkut hasil kerajinan ini, untuk selanjutnya dijual ke pasar-pasar tradisional di Klungkung, Bangli dan Gianyar. Setelah terjual, hasil penjualannya baru dibagi rata dengan ibu-ibu yang diajak menggarap anyaman ini.

Baca juga:  Kerajinan Tempat Lilin Di Tabanan Tembus Pasar Eropa

Warga menyadari membuat kerajinan ini hasil tidak terlalu banyak. Tetapi, membuat anyaman bambu ini orientasinya tidak semata-mata pada hasil. Setidaknya warga tetap ada aktivitas agar tidak jenuh dan stres di tempat pengungsian.

Warga lainnya, Dayu Putu Arti, mengatakan dengan hasil membuat anyaman ini, setidaknya warga bisa membeli lauk sendiri selama hidup di pengungsian. Sebab, logistik dari pemerintah daerah maupun dari donatur hanya menyediakan beras dan mie instan. “Bosan makan mie instan terus. Takut juga kesehatan anak-anak terganggu. Makanya, dari hasil membuat anyaman ini kita pakai beli lauk untuk makan sehari-hari,” katanya.

Kementrian Koperasi dan UKM RI melihat ini sebagai cara bertahan hidup warga Bali yang positif. Bila hasil karya anyaman bambu ini sudah menjadi buruan pengepul, yang perlu dilakukan sekarang adalah mengasah kemampuan warga di pengungsian, agar hasil produksinya lebih memiliki kualitas. Sehingga nilai jual hasil karya mereka juga bisa dihargai lebih tinggi. “Bagaimana sekarang mengarahkan mereka agar lebih profesional. Sehingga, hasil jual anyaman ini lebih bernilai meski warga berada di pengungsian. Beberapa lembaga pemerintah bisa melakukan pembinaan, seperti Dekranasda,” kata istri Menteri Koperasi dan UKM RI Bintang Puspayoga, saat menyerahkan bantuan kepada para pengungsi di Pos Pengungsian Pasar Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Minggu (15/10).

Camat Sidemen, A.A. Surya Jaya, mengatakan pihaknya sudah menyiapkan langkah-langkah itu. Kegiatan dalam bentuk pelatihan-pelatihan sedang dirancang. Sambil pengungsi beraktivitas, saat ini yang paling mendesak bagaimana hasil kerja mereka bisa diserap pasar. “Kami sedang merencanakan itu. Bahkan, kita siapkan rencana mengajarkan warga membuat bentuk kerajinan lain dengan bahan yang sama agar lebih variatif,” katanya. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.