ternak
Ternak sapi warga masih ada yang belum mengungsi. (BP/gik)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Memasuki pekan ketiga status awas, evakuasi ternak warga rupanya masih belum tuntas. Keengganan warga mau mengungsikan ternak sapi, kambing maupun babi masih menjadi kendala. Padahal, pemerintah sudah siap memfasilitasinya, baik sarana angkut, lahan pengungsian hingga pakannya.

Saat ini tercatat ada 16.237 ekor ternak warga yang belum dievakuasi. Padahal, pemerintah sudah menyediakan 43 titik tempat pengungsian lengkap dengan pakannya.

Menurut drh. Ni Wayan Patmawati, dari Satgas PKH (Peternakan dan Kesehatan Hewan), Senin (9/10) siang, mengatakan data 16.237 ekor ternak warga di zona awas ini sudah terdata dan tinggal diangkut. Dari jumlah itu, sebanyak 1.593 ekor ternak babi, 11.420 ekor ternak sapi dan 3.224 ekor ternak kambing. Petugas saat ini sedang berupaya membujuk para pemilik ternak, agar di evakuasi ke tempat aman. Selain siap memfasilitasi kendaraan, petugas bahkan siap menempatkannya dimana saja, yang penting menjauh dari zona awas. Tetapi, banyak juga yang menolak menaikan sapinya ke atas truk karena merasa lebih mudah mencari pakan di tempat sekarang.

Padahal, selain memfasilitasi truk angkut untuk mengungsi ternak, tempat yang layak dan aman, pemerintah juga menyediakan pakan konsentratnya di lokasi pengungsian ternak. Sementara, untuk pakan hijau warga bisa mencarikannya sendiri di sekitar lokasi titik pengungsian ternak. Sehingga, para pengungsi bisa sambil berkegiatan di sekitar lokasi pengungsian. “Dari pada ternaknya ada di zona awas, sebaiknya kan mau dievakuasi saja. Biar benar-benar aman. Kita juga tenang,” kata Patmawati.

Saat ini, sejak pemerintah memfasilitasi titik penampungan ternak warga, sudah ada 5.554 ternak warga diamankan. Dari jumlah itu, terdiri dari ternak sapi 4.849 ekor, babi 196 ekor dan kambing 509 ekor. Artinya, melihat data ini Satgas PKH masih punya tugas berat untuk segera mengevakuasi ternak lainnya yang masih cukup banyak. Total populasi ternak warga di zona awas sekitar 30 ribu ekor.

Baca juga:  Evakuasi saat Erupsi Juga Gunakan Jalur Laut

Diluar dari yang terdata, warga sudah mengungsikan sendiri ternak mereka ke tempat-tempat di dekat pengungsian mereka, untuk memudahkan mencarikan pakan ternak. Ada pula ternak yang diobral murah, lantaran takut ternaknya mati di desa yang ditinggalkan.

Saat ini, Satgas PKH selain mengupayakan evakuasi ternak warga, mereka juga sedang mencari sumber-sumber pakan ternak, misalnya jerami, untuk dikumpulkan sebagai pakan ternak jangka panjang. Sebagai persiapan untuk pakan, pihaknya melakukan permentasi pada jerami itu. Salah satunya dipusatkan di Desa Ngis, Kecamatan Manggis. “Ini sebagai antusipasi, kalau terjadi erupsi, ternak warga sudah ada pakan cadangannya,” tegasnya.

Wakil Komandan Satgas Penanganan Bencana Erupsi Gunung Agung, AKBP I Gede Ardana, mengakui perlu upaya ekstra membujuk warga di zona awas untuk segera mengungsi berikut dengan ternaknya. Karena ekonomi warga sangat mengandalkan peternakan.

Pemerintah sudah mengupayakan menampung ternak mereka. Tetapi, warga belum paham betul dan masih enggan mengikuti arahan pemerintah. Saat ini, petugasnya terus bergerak ke desa-desa di zona awas, untuk membujuk setiap warga yang ditemui agar segera mengungsi ke tempat aman. “Nanti di setiap jalan di zona awas, akan dipasang police line. Untuk mengingatkan warga agar tidak memasuki daerah itu lagi sementara,” tegas Kapolres Karangasem ini. (bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.