DENPASAR, BALIPOST.com – Penurunan wisatawan akibat status Awas Gunung Agung lebih banyak terdampak pada wisatawan dari grup. Sedangkan wisatawan yang datang secara individu tidak terlalu banyak mengalami penurunan.

“Yang terjadi sebenarnya itu lebih banyak penurunan wisatawan dari grup. Yang individu tidak banyak, tapi ada penurunan. Yang paling besar itu dari grup MICE,” ungkap I Nyoman Astama, Ketua IHGMA DPD Bali, Selasa (3/10) di sela-sela rapat stakeholder pariwisata bersama Dinas Pariwisata Bali.

Berdasarkan dari data anggota IHGMA, penurunan terjadi pada hotel-hotel. Namun data itu pun belum semua anggota IHGMA melaporkan. Sehingga ia memprediksi penurunan wisatawan grup tersebut lebih dari itu.

Sampai pada pukul 12.00, Selasa (3/10), pembatalan bookingan hotel mencapai 6.000 room/night dari hotel seluruh Bali baik Badung, Denpasar dan wilayah lainnya. “Kalau tinggalnya 3 malam berarti 2.000 kamar yang dibatalkan. Kalau dua malam berarti 3.000 kamar. Data itu lebih banyak wisatawan grup. Saya yakin jumlah itu bisa lebih banyak bahkan bisa dua kali lipat. Ini tentu karena status dari Gunung Agung yaitu Awas,” bebernya.

Wisatawan tersebut berasal dari negara-negara sumber wisatawan yang mengingatkan kembali warga negaranya dengan memberikan travel advice. “Inilah yang sebenarnya memicu dan memacu penundaan. Atau kalaupun ditunda berarti bulan ini atau tahun ini batal. Ini yang kita alami secara faktanya,” ujarnya.

Sedangkan wisatawan yang datang secara individu tetap melakukan perjalanan ke Bali. “Kalau yang tidak suka berpetualang, dia pasti menunda,” imbuhnya.

Baca juga:  Pukul Lesung, Puan Buka PKB Ke-39

Sebelumnya wisatawan yang datang tersebut sudah melakukan booking. Namun dengan adanya kabar tanda-tanda erupsi Gunung Agung, wisatawan tersebut membatalkan.

Namun ada juga mengubah tanggal kedatangannya. “Kita sarankan mereka yang khawatir itu mengubah tanggal periode kedatangannya. Jadi mungkin bulan depan, dua bulan lagi, enam bulan lagi, atau tahun depan. Kita sih fleksibel,” pungkasnya.

Sementara itu, villa yang notabene lebih banyak menerima tamu individu atau couple mungkin sedikit terdampak dari tanda-tanda erupsi Gunung Agung ini. “Kalau hotel-hotel besar, yang mempunyai fasilitas meeting room, lebih banyak menerima tamu grup,” ungkapnya.

Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan, pihaknya melihat bookingan hotel pada Oktober sudah dibatalkan sebesar 20-30 persen. “Mungkin November lebih banyak lagi,” ujarnya.

Memang bulan Oktober bukan high season. Namun dalam kondisi normal, bookingan hotel menurun. Tamu yang membatalkan beralasan karena Gunung Agung.

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika menekankan agar masyarakat tidak panik. Karena dari 78 desa di Karangasem, hanya 28 desa yang terdampak.

Masyarakat, lanjutnya, banyak yang membayangkan erupsi tahun 1963 dengan kondisi yang tidak secanggih saat ini. Akibatnya masyarakat menjadi panik. “Jangan membayangkan kayak neraka. Semua bikin posko seolah-olah krisisnya luar biasa,” tegasnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.