Umat bersembahyang di Pura Besakih. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Umat Hindu Bali percaya bahwa Gunung Agung adalah tempat bersemayamnya para Dewa dan mempercayai bahwa di Gunung Agung terdapat istana dewata. Oleh karenanya, umat Hindu di Bali menjadikan Gunung Agung yang saat ini aktivitasnya naik ke level IV (awas) sebagai tempat keramat yang sangat disucikan.

Apalagi, di bawah kaki Gunung Agung terdapat Pura Besakih yang merupakan Pura Sad Kahyangan terbesar di Indonesia yang menjadi pusat puranya di Bali. Ketua PHDI Bali. Prof. Dr. IGN Sudiana, M.Si., mengatakan selain sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan leluhur, Gunung Agung juga merupakan sumber kehidupan dan kebangkitan umat Hindu di Bali.

Gunung Agung juga merupakan hulu yang melambangkan kesucian wilayah Bali. Sehingga, kawasan Gunung Agung harus selalu dijaga kesuciannya, baik secara sekala maupun niskala. “Secara filosofis Gunung Agung melambangkan linggacala (lingga yang tidak bergerak, red) dan dewa yang berstana di Gunung Agung disebut Sang Hyang Pasupati atau Sang Hyang Girinata. Sehingga, umat Hindu Bali maupun pelancong yang berada di kawasan Gunung Agung harus selalu berpikir suci, berkata-kata yang baik, dan berperilaku yang sopan,” ujar Prof. Sudiana.

Selain itu, Gunung Agung juga memberikan dampak keseimbangan bagi alam semesta. Dalam Adiparwa, kata dia, perputaran Gunung Agung bisa mengeluarkan Tirta Amertha untuk kehidupan. Sehingga, dalam Hindu, gunung melambangkan tempat yang memberikan kehidupan dan kemakmuran bagi seluruh makhluk hidup disekitarnya.

Oleh karena itu, kelestarian Gunung Agung tidak boleh dirusak, baik pohonnya maupun material yang ada di sekitar Gunung Agung. “Pusat dari kesucian di Bali itu adalah di Gunung Agung, dan jika diusik maka akan murka dan menyebabkan malapetaka. Sehingga, berpikir buruk di areal Gunung Agung itu tidak boleh, apalagi melakukan perilaku asusila,” tegasnya.

Baca juga:  Ini, Sanksi 6 Petugas Pos Gilimanuk yang OTT

Sudiana menegaskan, bahwa Gunung Agung yang merupakan stananya para dewa juga dapat dilambangkan dalam kehidupan ini. Seperti halnya di tempat suci (pura), Gunung dilambangkan sebagai Meru, dalam sarana upakara (banten), Tumpeng sebagai lambang gunung dan dalam tubuh manusia, hati melambangkan gunung tersebut.

Sehingga, kesucian pura harus bena-benar terpelihara dengan baik, meskipun wisatawan masuk ke Gunung Agung dan Pura Besakih. “Jangan sampai karena kita butuh uang tetapi mengabaikan kesucian pura yang menyebabkan efek yang tidak bagus bagi kehidupan kita bersama,” tegasnya.

Meningkatnya Gunung Agung ke level awas (IV), pihaknya bersama para umat telah melakukan Kegiatan ritual “Peneduh jagat” pada 20 September. Ritual ini bermakna untuk memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa agar dapat mengendalikan aktivitas Gunung Agung untuk kembali normal sekaligus menyelamatkan bumi beserta seluruh isinya.

Ritual itu juga bermakna menyampaikan permohonan maaf (guru piduka) atas kesalahan masyarakat yang dilakukan, tidak hanya yang bermukim di sekitar Gunung Agung, tapi seluruh masyarakat Bali dan Indonesia umumnya. Selain itu, dikatakan, masyarakat dan seluruh desa pekraman di Bali juga telah melakukan hal yang sama di pura atau di tempat suci masing-masing, agar Gunung Agung kembali normal seperti sediakala. (Winatha/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.