
DENPASAR, BALIPOST.com – Ekosistem mangrove di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Bali Selatan, dinyatakan dalam kondisi darurat ekologis. Ratusan pohon mangrove di wilayah Benoa, tepatnya di barat pintu masuk Jalan Tol Bali Mandara, dilaporkan mati mengering secara serentak pada Februari 2026.
Hal ini terungkap berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Udayana (Unud) melalui Rumah Sakit Pertanian, dikomandoi Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, S.P., M.Si. Tim turun langsung ke lokasi untuk melakukan diagnosis penyakit tumbuhan terhadap ratusan pohon yang mati dalam satu blok vegetasi, Senin (23/2).
Hasil pemeriksaan lapangan menemukan gejala khas penyakit abiotik, antara lain daun klorosis (menguning), nekrosis (kecoklatan), kulit batang mengelupas, pertumbuhan kerdil, busuk akar berwarna hitam, hingga penebalan daun (sukulensi).
“Tidak ditemukan infeksi patogen penyebab penyakit. Indikasi kuat mengarah pada keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon (minyak),” ujar Dewa Gede Wiryangga Selangga saat dikonfirmasi, Rabu (25/2).
Diungkapkan, di sekitar lokasi terdampak, terdapat jalur pipa distribusi BBM milik Pertamina Patra Niaga yang melintasi kawasan mangrove. Berdasarkan data koordinasi, pada September hingga November 2025 dilakukan perawatan jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa menuju Pangkalan Pertamina Pesanggaran.
Ia menduga terjadi rembesan minyak ke dalam substrat mangrove dan proses pembersihan (clean-up) tidak dilakukan secara menyeluruh. Meski inspeksi visual pada 21 Februari 2026 tidak menemukan lapisan minyak di permukaan air, hidrokarbon di ekosistem mangrove diketahui kerap terakumulasi di dalam sedimen.
Minyak yang masuk ke pori tanah dapat menutup sistem perakaran, merusak membran sel, serta mengganggu penyerapan nutrisi. Senyawa aromatik dalam BBM bahkan mampu memicu kematian vegetasi hanya dalam hitungan minggu.
Pihaknya mengungkapkan beberapa jenis mangrove yang terdampak, antara lain Sonneratia alba (Prapat) – batang kering dan rapuh (±6 are area intensif). Rhizophora apiculata (Bakau) – daun menguning serentak (±60 are area sebaran). Avicennia marina (Api-api) – akar membusuk/kering di blok barat tol.
Kondisi aliran air yang melambat akibat pembangunan Jalan Tol Bali Mandara disebut turut memperparah situasi. Polutan diduga tidak menyebar alami, melainkan terperangkap di sekitar titik kebocoran.
Ia mengatakan bahwa saat ini tim tengah melakukan analisis GC-MS (Gas Chromatography–Mass Spectrometry) untuk memastikan kandungan hidrokarbon di area rhizosfer mangrove. Ketidaksesuaian antara hasil inspeksi visual dan fakta kematian vegetasi memunculkan desakan agar dilakukan investigasi forensik lingkungan secara independen. Sebab, kebocoran bawah tanah atau pipa berkarat dinilai sulit terdeteksi kasat mata, namun berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem pesisir.
Tim peneliti merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Antara lain, pemantauan rutin kesehatan mangrove sebagai bagian dari pengelolaan kawasan lindung. Bioremediasi melalui isolasi dan aplikasi bakteri pendegradasi minyak bumi.
Audit menyeluruh infrastruktur energi di Bali Selatan, termasuk pemasangan sensor kebocoran real-time. Moratorium aktivitas berisiko di kawasan sensitif hingga AMDAL diperbarui. Rehabilitasi substrat sebelum penanaman ulang mangrove. Penertiban status lahan di kawasan Tahura agar fungsi hutan lindung tidak tergerus kepentingan bisnis.
Tanpa langkah drastis, krisis ini dikhawatirkan mengancam ketahanan pesisir Bali, memperbesar risiko bencana, serta merusak citra Pulau Dewata sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan.
Perlindungan mangrove, tegas para peneliti, bukan sekadar isu lokal, melainkan menyangkut keamanan wilayah pesisir dan ketahanan menghadapi perubahan iklim global. (Ketut Winata/balipost)









