Tatto
Jem Tatto didampingi Manager Pande Rosree interaktif di Radio Singaraja FM dalam acara Gatra Artis Bali Minggu (10/9). (BP/mud)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Empat pemuda Buleleng sepakat membentuk sebuah garapan musik dengan sebutan  Jem Tatto. Julukan Jem Tatto dipilih karena mereka memiliki ciri khas personel bertatto. Jem Tatto sendiri beranggotakan I Ketut Agus Suadnyana/Jem Tatto (vocal), Agastya (bass), Dedy Rahendra (drum) dan Dewa Satria (gitar).

Suadnyana usai interaktif di Radio Singaraj FM Minggu (10/9) mengatakan, Jem Tatto hadir meramaikan belantika musik di Buleleng dengan menawarkan lagu pop Bali. Selama ini, penilaian miring kerap ditudingkan terhadap orang-orang bertatto. Padahal, tidak semua orang bertatto itu berbuat jahat seperti yang sering disorot media jika ada tersangka yang bertatto maka tattonya yang lebih banyak disorot.

Untuk itu, sabagai penekun seni tatto, Jem Tatto sangat paham dengan maksud dan tujuan melukis badannya dengan jarum. “Kesannya negatif, padahal banyak juga yang tidak bertatto terlibat kasus pidana. melalui dibidang seni musik, dan menjadi tukang tattoo, saya sangat paham dengan tujuan dan maksud orang bertatto. Murni untuk seni dan bukan untuk ajum-ajuman,” katanya.

Baca juga:  PNS Pemkot Denpasar Dites Urine

Sementara itu, Manajer Jem Tatto, Pande Rosree ingin menepis kesan miring itu dengan membentuk wadah BTC (Bali Tatto Community). BTC yang telah terbentuk 21 Juli 2017 lalu kini telah dikukuhkan pengurusnya.  BTC nantinnya akan tetap bergandengan tangan dengan Jem Tatto baik melakukan kegiatan intern BTC maupun kegiatan yang lainnya

“Untuk saat ini memang belum banyak yang bisa kita lakukan karena kami madih fokus ke dalam. Nah setelah dikukuhkan pengurusnya, baru kita mulai tancap gas,” imbuhnya.

Selain memperkenalkan BTC sebagai partner kerja menghilangkan kesan miring orang bertatto, artis Jem Tatto juga merelese lagu “Metajen” yang mendapat respon positif pecinta lagu pop Bali. “BTC ini bukan hanya wadah komunikasi fans Jem Tatto tetapi lebih pada organisasi tempat kita berkumpul dan menanamkan prinsip saling asah-asih-asuh dan menempa diri menghadapi era kini yang  serba digital,” tegasnya. (mudiarta/balipost)

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.