Peneliti
Panglingsir dan keluarga besar Jero Dalem Kepaon, Denpasar Selatan menyaksikan film dokumenter seniman dari puri tersebut yang diperoleh peneliti budaya Bali asal Amerika, Dr. Edward Herbst.(BP/rah)

DENPASAR, BALIPOST.com – Jero Dalem Kepaon, Denpasar Selatan kedatangan tamu istimewa, Selasa (29/8). Tamu tersebut adalah Dr. Edward Herbst, peneliti budaya Bali dari Amerika. Edward yang fasih Bahasa Indonesia dan bisa Bahasa Bali walau tidak banyak ini disambut panglingsir dan keluarga besar Brigjen Pol. (purn) Dewa Bagus Made Suharya.

Tujuan Edward ke sana untuk menelusuri sinaman asal Kepaon tahun 1928 yang ada di salah satu koleksi film dokumenter yang diperolehnya. Ternyata salah satu seniman yang ada di film jaman dulu itu adalah kakek Dewa Suharya yaitu Dewa Bagus Putu Sarya. Selain itu juga ibu Dewa Suharya yang masih hidup sampai sekarang yakni Dewa Ayu Putu Nadri (87) yang akrab dipanggil Biang Geria.

Edward mengatakan dilakukan penelitian tersebut dengan maksud memulangkan bukti-bukti jaman dulu yang belum pernah didengar dan dilihat oleh seniman, sarjana serta masyarakat Bali. “Kami punya koleksi piringan hitam rekaman adat dan budaya Bali. Terutama gending-gending yang ada di Bali jaman dulu sekitar tahun 1928. Nama penelitian kami adalah repatriasi 1928 dan kami menemukan 111 gending Bali termasuk CD-nya,” ujarnya.

Selanjutnya ia melakukan restorasi rekaman tersebut bekerja sama dengan ahlinya di New York. Selain itu ia juga menemukan film tarian Bali tahun 1930-an dan kehidulan sehari-hari krama Bali seperti  lingkungan alam, odalan, ngayah, ngaben atau pelebon.

“Tugas kami mencari bukti jaman dulu tentang budaya Bali. Saya yakin sebenarnya budaya Bali sangat rumit, terus berkembang dan kreatif. Ini bukti tahun 1928 hingga 1930-an sangat hebat (senimannya-red). Misalnya tari janger di Abiantimbul atau Kedaton, lucu, rumit dan sangat revolusioner,” tegasnya.

Karena kegigihannya ingin mengembalikan dokumen jaman dulu budaya Bali walau dalam bentuk direkam ulang, ia  menemukan bukti foto di kantor arsip seluruh dunia. Ia melakukan itu karena guru dan teman-temannya di Bali ingin mencari rekaman tersebut. “Teman-teman saya ingin dokumen itu karena  mau belajr untuk melestarikan dan membangkitkan kembali. Misalnya gending-gending di daerah Denpasar, Gria Pidada Klungkung. Banyak sarjana dan seniman ingin melihatnya,” ungkap Edward.

Selama 15 tahun ia melakukan itu dan setelah 8 tahun terkumpul semua, terutama rekaman gending Bali tempo dulu. Walau untuk mendapatkannya tidak mudah karena harus minta izin beberapa kali. Baginya itu punya masyarakat Bali dan dari dulu ia sampaikan itu untuk mendapatkan soft copy-nya. “Kalau hanya meliht foto atau tayangan film tapi tidak tahu namanya, saya tidak puas. Oleh karena itu saya coba mencari panglisir seperti yang ada di dokumen itu,” ujarnya.

Baca juga:  RRT Utus Kelompok Seni dari Yunnan di PKB XLI

Beberapa bulan lalu ia mendapat film kuno di Perpustakaan Nasional Washington DC. Film tersebut disimpan selama 80 tahun dan baru dibuka beberapa bulan lalu. “Di sana ada asisten dari Bali namanya Made Kaler dari Buleleng. Ia sangat teliti dan penulis cepat. Dia bisa menonton sambil mencatat apa dikatakan penari. Mudah-mudahan dia jadi pahlwan ahli antroplog pertama asal Bali,” harapnya.

Di film tarian tersebut dilihat ada tulisan Kepaon dan Bagus is Group (kelompok Bagus Kepaon). Ia langsung menelepon temanya Nyoman Wisura asal Kepaon dan diantar ke Jero Dalem Kepaon.

“Di film itu menayangkan igel (tari) pantiran atau jongkok, kalau sekarang mungkin dikenal tari kebyar duduk. Saya sangat senang sekali bertemu dengan panglingsir dan keluarga besar di sini sehingga tahu nama penabuh dan penari di film tahun 1928 ini,” ujarnya.

Dewa Suharya yang akrab dipanggil DBM Suharya ini mengaku angga dengan kakeknya (Dewa Bagus Putu Sarya) karena menjadi cikal bakal seni tari di Bali Selatan, khususnya Kepaon dan sekitarnya. “Kami kenal almarhum kakiang (kakek) itu seorang penari atau seniman dan pesilat. Ternyata beliau juga guru, melatih tabuh di Kepaon, Langon, Belaluan sampai Singaraja. Kami sendiri tidak mewarisi seni tarinya, tapi diberikan wairsan seni bela diri. Terima kasih Pak Edward karena menunjukkan film dokumenter tentang panglingsir kami dan baru kali ini kami bisa lihat,” ujar mantan Kapoltabes Denpasar.

Film itu membuatnya bangga sehingga  saat melihat tayangan kakeknya sedang makendang, ia langsung teriak itu kakiang (kakek). “Kakiang kami meninggal tahun 77 diusia 76 tahun. Waktu itu saya masih sekolah Taruna tingkat 1. Saya baru lihat kalau kakek ganteng dan gagah sekali. Ternyata keluarga kami merupakan seniman hebat jaman dulu dan saya bertekat untuk melestarikan budaya Bali yang diwariskan panglingsir kita,” ujar pensiunan jenderal bintang satu ini.(kerta negara/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.