Direktur PT. BIBU Panji Sakti, Made Mangku. (BP/mud)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Keinginan PT. Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) Panji Sakti mulai membangun bandara seperti rencana awal pada Senin (28/8), nampaknya belum bisa terwujud. Pasalnya hingga Minggu (27/8), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum juga menerbitkan Izin Penetapan Lokasi (Penlok) bandara yang akan dibangun di lepas pantai itu.

Namun, untuk menunjukkan keseriusan, BIBU akan menggelar newasain (ritual mengawali pekerjaan menurut kepercayaan Hindu) pada Senin (28/8). Upacara ini dirangkaikan dengan menggelar ritual Pakelem di kawasan Pura Penyusuhan Penegil Dharma Desa Kubutambahan.

Direktur PT. BIBU Panji Sakti Made Mangku menjelaskan sesuai rencana awal, akan ada ritual newasain untuk mengawali pembangunan proyek Bandara di Buleleng. Akan tetapi karena izin penlok belum diterbitkan oleh Kemenhub, peletakan batu pertamanya ditunda.

Made Mangku mengaku tidak tahu dengan pasti mengapa sampai sekarang pemerintah pusat belum menerbitkan penlok. Padahal, sebagian besar persyaratan sudah dilengkapi.

Bahkan, pada Februari 2017 pihaknya sudah melakukan ekspose terkait perencanaan proyek secara terbuka. Jika dikaitkan dengan regulasi, 45 hari kerja sejak persyaratan diajukan, penlok harusnya sudah terbit. “Semua syarat sudah kami lengkapi, ekspose terkait proyek kami juga sudah kami sampaikan, tapi setelah itu apakah ada kekurangan untuk kami sempurnakan tidak ada penjelasan dari Kemenhub. Kalau ingin penjelasan masalah penlok itu, sekiranya bisa ditanyakan ke Kemenhub,” tegasnya.

Baca juga:  RI Tidak Cabut Lisensi Terbang Qatar Airways

Sementara itu Kelian Desa Pakraman Kubutambahan Jro Pasek Ketut Warkadea menyambut baik keinginan PT. BIBU Panji Sakti menggelar upacara newasain dan ngaturang pakelem di kawasan Pura Penyusuhan Panegil Dharma. Dikatakan, rentetan upacara menurut keyakinan Hindu ini terlepas dari wacana kapan dan siapa perusahaan yang akan diberikan izin oleh pemerintah pusat membangun bandara di daerahnya. “Prajuru sangat mendukung dan berterimakasih digelarnya upacara dan bagi kami rentenan upacara ini lebih kepada nunas (memohon) kerahayuan dan pemahayu jagat terlepas dari isu pembangunan bandara di daerah kami,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Buleleng ini meyakini proyek bandara salah satu implementasi kebijakan pemerataan pembangunan antara selatan dan utara. Selain itu, multiplayer efek dari proyek bandara itu sendiri adalah menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Siapa perusahaan dan mau dibangun di laut atau di darat, kami orang awam tidak tahu soal itu dan kami tunggu keputusan pemerintah pusat. Yang jelas proyek bandara ini memberikan manfaat kepada masyarakat di Buleleng dan memperhatikan kelestarian lingkungan dan kearifan lokal di daerah kami harus dijaga,” tegasnya. (Mudiarta/balipost)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.