Pasutri di Banjar Antungan, Desa Blahbatuh, hidup di rumah rusak yang sudah termakan usia. (BP/dok)
GIANYAR, BALIPOST.com – Pasangan suami istri, Gusti Made Pering (64) dan Ni Gusti Made Raka (62) hidup di bawah garis kemiskinan di Banjar Antugan Desa Blahbatuh, Gianyar. Pasutri ini hidup hanya berdua karena tidak memiliki keturunan.

Tinggal hanya berdua, dengan beban menggarap sawah di usia renta membuat pasutri ini tak mampu mengurus rumahnya. Bahkan sejumlah bangunan yang berdiri di atas lahan sikut satak itu tampak rusak dimakan usia. “Terakhir rumah ini kami perbaki sekitar tahun 1972 silam, tetapi setelah itu tak bisa diperbaiki lagi. Atap bocor saja tak bisa tyang perbaiki karena sudah tua,” ujarnya.

Memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasutri ini hanya mengandalkan penghasilan dari menjual jejahitan. Hasil panen padi, diakui tak pernah memuaskan, malahan lebih sering gagal panen. Kepiluan semakin mewarnai kehidupan pasutri ini, sebab sejak beberapa tahun belakangan sang kepala keluarga Gusti Made Pering menderita penyakit kulit yang aneh.

Secara medis, Gusti Made Pering disebut mengalami kanker kulit. Hanya saja, keterbatasan biaya dan informasi menyebabkan ia tak bisa berobat.

Baca juga:  Liburan di Bali, Pasutri Singapura Jadi Korban Kejahatan

Benjolan semacam kutilan tumbuh di seluruh tubuh Gusti Made Pering. Mulai dari wajah, tangan, badan, hingga kaki tampak ditumbuhi kutil.

Dikatakan kutilan tersebut mulai tumbuh di wajah sekitar tahun 1990an. Hingga 2012 saat buat KTP, wajah nya sudah ada benjol-benjol kecil. Setelah itu mulai banyak sampai sekarang.

Pering mengaku tidak mengetahui pasti apa penyebab sakitnya itu. Ia pun sempat melakukan pengobatan medis dan non medis, hingga kini pihaknya tak mendapatkan jawaban. Yang ia ketahui, penyakit kulitnya ini tak menular. “Saya lahir normal, setelah menikah juga masih normal, hanya sekarang baru begini,” ujarnya.

Meski demikian rasa syukur masih bisa ia rasakan sebab benjolan di tubuhnya ini tidak menyebabkan gatal-gatal. Cuma, Pering mengaku malu jika bertemu orang lain. “Kalau rasanya biasa saja. Tidak gatal. Tapi orang lain yang melihat mungkin jijik,” ungkapnya. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.